Translate

Kamis, 31 Juli 2014

puisi

                       RINDU AYAH
Ketika fajar mulai terbit
Matahari mulai siap untuk hadir
Tragedi masa lampau kembali terjadi dalam lamunanku
Perih ku rasa...
Sulit tuk ku percaya...
Ayah....
Kini kau tidak bersamaku lagi
Tahukah engkau saat ku merindumu aku mencoba tuk mencarimu  lewat air mata?
Berharap engkau mendengar jerit tangis hatiku
Masih pantaskah aku menjadi anak kesayanganmu?
Masih bisakah aku mencium tanganmu?
Masih bisakah aku melihatmu?
Hanya sekedar melihat mu ayah....
Dengarlah aku
Aku merindumu
Ayah..... :-(

By: aya

Rabu, 30 Juli 2014

Maafkan atas egoku



''Brraakk..''
Untuk  yang  kesekian  kalinya  aku  membanting  telapak  tanganku  di atas  meja  yang  hanya waktu  itu  tersedia 2 gelas  lemon  tea  yang  riyan  pesan  untukku  dan  untukknya  sendiri,  amarah dan  emosiku   memuncak menguasai  diriku,  entah  kenapa  aku  sekeras  itu  terhadap  riyan,  padahal  dia  hanya  ingin  aku  untuk  mengenalkannya  kepada  mamaku  seperti  dia  yang  terus-terusan  mengajakku  untuk  menemui  mamanya.  aku  tahu  dia  hanya  ingin  memperserius hubungan kita
''sudah  berapa  kali  sih  aku  bilang?  harus  berapa  kali  aku  bilang?'' aku  membentak  riyan  full penuh  amarah  dan  bergegas  untuk  pergi  meninggalkannya  sendiri  dari  tempat  itu
''aku  hanya  ingin  kita  serius  dengan  hubungan  ini,  karena  aku  sudah  yakin  untuk  memilihmu'' pun  untuk  yang  kesekian  kalinya  riyan  menjawab  begitu  atas  perkataanku  namun  riyan  tetap tenang,  yang  tadinya  serius  membaca  pesan  yang  masuk  di  Hp  nya  kini  dia  meletakkan  hp nya  di atas  meja  dan  dengan  pelan  berusaha  menjelaskan  dan  membuatku  tenang.
'' tunggu  5 tahun  lagi,  itu  kalau  kamu  sanggup,  bukankah  aku  sudah  berkali-kali  bilang  sama  kamu?  aku  persilahkan  kamu  untuk  mencari  yang  lain  seandainya  kamu  tidak  sanggup''  karna  kurasa  waktu  selama  itu  bisa  membuatku  percaya  lagi  dengan  laki-laki  setelah  tersakiti  oleh  kekasihku  dulu. kemudian  aku  pergi,  seperti  biasa  riyan  pun  mengejarku  berusaha  mencegahku  pergi.
                       Tapi waktu itu ku rasa riyan berbeda, biasanya di saat seperti itu dia terus berusaha mengejarku dan terus meminta maaf padaku smapai akhirnya aku luluh, tapi tidak waktu itu, saat secara kebetulan mobil taksi menghilangkan ku dari pandangannya, dia langsung memasuki taksi itu, sama sekali tidak menghiraukan aku,
''dasar cowok.. dimana-mana sama aja..'' aku dengan sangat kesal bisa di bilang bicara dengan tiang listrik di depanku. jelas saja aku berfikiran yang tidak2 tentang riyan, aku memang sudah lama kenal riyan, dia adalah kaka pembina pramuka di SMP ku dulu, tapi juga bisa di bilang aku baru bertemu lagi dengannya, sekitar 4 bulan yang lalu setelah aku berpisah dengan kekasihku yang penghianat dulu.
Dengan muka cemberut aku lanjut berjalan untuk pulang
''mba... mba.. tunggu'' tiba2 ada perempuan berlari menghampiriku dari dalam kafe tempat aku menemui riyan tadi
''iya mmba, kenapa yah?'' tadinya udah terfikir olehku kalu riyan belum membayar yang dia pesan tadi, makanya si mba pelayan itu menghampiriku
''mba yang tadi bareng cowok yang duduk di meja nomor 8 itu kan?'' dia sambil menunjuk ke arah meja yang ia maksud, mungkin maksudnya riyan
''iya'' aku dengan tampang bingung
''ini HP nya ketinggalan, boleh minta tolong mba balikin ke dia nggak'' dia menyodorkan smart phone yang katanya milik riyan kepadaku. oh ternyata... fikkirku
''oh,, ya, makasih yah'' tadinya aku ragu dan tidak mau menerimanya, tapi masa aku setega itu??
si pelayan itu pergi dan aku melanjutkan perjalananku.
''dddrrrrttt,,ddrrrttt..'' Hp riyan bergetar pertanda ada panggilan masuk, tertulis di layar Hp itu panggilan dari devia, ingat cerita riyan, devia itu adalah adiknya, aku jadi bingung apa yang harus aku lakukan, apa aku biarkan saja tidak usah menjawabnya? tapi kalau penting gimana? mungkin sebaiknya aku jawab dan bilang sebenarnya
''halo,, kak, mama dari kemaren tidak mau makan sampai maag nya kambuh, dia cuma pengen ketemu kakak, kakak pulang lah lihat mama sebentar saja.. tuulaaliiit,, tuullaliit.'' belum sempat aku terucap satu katapun keluar dari mulutku, panggilannya sudah terputus, devia duluan bicara dan mengira aku adalah riyan, terdengar dari suaranya tadi nampaknya dia menangis, apa yang terjadi sebenarnya dengar riyan dan keluarganya? riyan tidak mau pulang? mungkinkah gara2 aku?
bermacam pertanyaan yang hadir di benakku membuatku berani untuk membuka HP riyan, ku lihat terdapat lebih dari 20 kali panggilan tidak terjawab, dan 48 pesan masuk yang semuanya dari devia,
pesan1; kak, mama sakit, dia ingin bertemu kaka, pulanglah sebentar saja,, sekitar 2 bulan yang lalu
pesan 2; kak, mama tidak mau makan, kakak tidak kasihan sama mama? pulanglah sebentar aja kak,, masih sekitar 2 bulan yang lalu
pesan 3; kak, pulanglah aku mohon... sekitar 1 bulan yang lalu.
Dari pesan sebanyak itu berisi sama tertulis begitu.
pesan terakhir hari itu; aku nggak nyangka kakak setega ini sama mama cuma karena ego kakak sendiri, asal kakak tahu mama hanya ingin melihat kaka menikah karna mama sayang sama kakak dan ingin melihat kakak bahagia,, hanya itu pesan yang berbeda dari yang lain, tapi hanya terdapat satu pesan terkirim riyan tulis sebagai balasan dari pesan devia itu
dia bilang ''aku sudah pernah bilang, aku tidak mau menikah dengan siapapun kecuali dengan wanitaku di 5 tahun lagi'' serasa angin topan menerpaku setelah membaca pesannya yang satu itu, perasaan bersalah menjelma hebat di hati dan otakku, aku jadi merenungi sikap dan sifatku sendiri, apa yang terjadi dengan diriku? mengapa aku seperti batu? sekeras dan sejahat itu? serasa mataku buta tidak bisa melihat kesungguhan cinta riyan yang tulus ia berikan hanya untukku.
                         Ku rasa aku tidak perlu berfikir lebih panjang lagi untuk menemui riyan dan mamanya untuk meminta maaf. Langkahku penuh semangat membawaku hingga sampai di rumah riyan dengan taksi yang ku tumpangi yang melaju dengan cepat
''tok..tok..tok..'' suara pintu ku ketuk, tapi kemudian ada ibu-ibu tetangga memanggilku
''orangnya tidak ada dek..'' katanya memberitahuku
''tidak ada? ibu tahu nggak mereka pergi kemana?'' aku mencoba mencari tahu
''paling juga ke rumah sakit, bu witri kan sering bolak-balik ke rumah sakit'' aku rasa ibu itu tidak tahu, dia hanya menebak
''apa ibu tahu rumah sakitnya dimana?'' tapi tidak ada salahnya aku coba mencari
''biasanya di rumah sakit mitra kasih, itu rumah sakit satu-satunya yang letaknya tidak jauh dari sini'' lanjut ia menjawab
''oh,, terimakasih atas informasinya bu..'' kemudian ia pergi, akupun segera bergegas pergi ke rumah sakit tersebut.
                    Dengan memakan waktu 5 menit perjalan taksi yang ku tumapangi tadi akhirnya sampailah aku di tempat tujuan.
''suster, pasien yang bernama ibu witri di rawat di kamar nomor berapa yah?'' ke suster receptionist
''mohon tunggu sebentar,,, nomor 13'' dia langsung memberitahuku setelah melihat selembaran kertas berisi daftar nama pasien di mejanya
''makasih suster''
''sama-sama''.
Langkahku dengan kecepatan penuh menuju kamar pasien nomor 13 hingga sampai di depan pintu yang kebetulan tidak mereka tutup, terdapat riyan yang sedang menyuapi mamanya dan satu perempuan berdiri di belakangka, ku rasa itu adalah devia, adiknya
''ma.. makanlah sedikit aja juga nggak papa, biar mama cepat sembuh'' terlihat riyan sedang membujuk mamanya untuk makan
''mama nggak mau makan, mama hanya pengen lihat kamu menikah'' terdengar dari balik pintu mama riyan bicara seperti itu, langkahku jadi terhadang oleh keraguan
''ma.. tolonglah mengerti aku, bukannya aku tidak mau menikah dengan wanita2 pilihan mama untukku, tapi aku hanya ingin bersama wanitaku yang pasti ada di 5 tahun lagi ma,, aku janji aku akan menikahinya di waktu itu''
''kamu tidak pernah berfikir mungkin di waktu yang kamu tentukan itu mama sudah berada dengan almarhum papa mu?'' perkataannya yang satu itu telah menghadirkan butiran air mata jatuh di pipiku tanpa sadar, aku sangat merasa bersalah, aku tidak pernah habis fikir bahwa keegoisanku itu sudah melukai hati orang yang sangat mencintaiku, bahkan mamanya sampai sakit parah seperti itu, sungguh aku tidak pantas untuk riyan, mungkin lebih baik aku biarkan dia mencari yang jauh lebih baik dari pada aku.
''mba nabila..'' entah sejak kapan devia di depanku, saat aku menangis, tanpa sepengetahuan riyan dia menghampiriku di ujung pintu, aku kaget dan segera mengusap air mataku
''kamu,, devia kan? adiknya riyan?'' aku sendiri bingung, karna sebelumnya kita belum pernah bertemu bertatap muka, karna aku selalu menolak setiap kali riyan mengajakku untuk berkenalan dengan keluarganya.
''mba mencari kak riyan?'' tanyanya
''oh,, mmm,, aku cuma mau balikin HP nya tadi ketinggalan di kafe'' aku gugup menjawabnya, menyodorkan Hp, mempersilahkan devia untuk menerimanya. diapun menerimanya kemudian senyum
''kalau gitu, aku pulang, nampaknya riyan tidak ada waktu untuk menemuiku'' bodoh aku berkata begitu, mungkin karena aku terlalu merasa bersalah, aku tahu tak semestinya aku begitu, tapi jujur aku bingung apa yang harus aku katakan dan ku lakukan kala itu. devia pun membiarkan aku pergi, fikirku mungkin dia menilai sifatku tidak baik, mungkin dia pun menginginkan agar kakaknya tidak menikah denganku.
                     Tapi ternyata itu hanya fikiran negatifku aja, belum jauh aku melangkah menjauhi kamar tempat mamanya di rawat, dia mengejarku dan menghentikan langkahku
''mba nabila..'' teriak devia dari belakang memanggilku
''maaf, aku menyita waktu mba sebentar, hanya sebentar kok, aku tidak akan bicara lama-lama karena aku tahu mba lebih kenal dan lebih tahu tentang kak riyan daripada aku mungkin, aku tidak tahu apa yang mba rasakan dan fikirkan setelah melihat dan mendengar percakapan antara mama dan kakak tadi, tapi aku harap hati nurani mba dapat berbicara dan memberikan yang terbaik untuk kakak, setahu aku kak riyan itu orang yang baik, hebat, berpendirian, tidak mudah menyerah pun tidak mudah menerima cinta dari seorang kaum hawa, mungkin itu terjadi sejak karena ia di hianati oleh kekasihnya yang berselingkuh tetap di depan mata kakak 3 tahun yang lalu, jujur aku tidak percaya, sekeras hati kakak tentang cinta wanita, akhirnya bisa luluh juga sampai mengorbankan amanat mama yang menginginkan dia menikah dan berkali-kali menjodohkan dengan anak teman2 nya yang bukan mereka yang mampu meluluhkan kekerasan hati kakak, sampai ia rela menunggunya 5 tahun lamanya padahal dia sendiri sudah ingin berumah tangga karena umurnya pun yang  sudah mencukupi, aku yakin mba tahu siapa orang yang  ku maksud bisa meluluhkan hati kakak, aku hanya ingin minta tolong sama mba untuk bicara baik- baik pada kakak agar dia mau menuruti omongan mama termasuk untuk menikah, entah dengan siapa itu..'' jelasnya panjang lebar, aku hanya diam merenungi dari setiap katanya
''mama...'' tiba2 suara mungil itu terdengar dari arah belakang devia, anak kecil berlari di ikuti seorang lelaki dewasa yang mungkin adalah papanya menghampiri devia, ya,, mereka adalah anak dan suami devia, begitu katanya setelah mengenalkannya padaku dan kemudian pergi bersama mereka meninggalkanku sendiri
Ucapan devia tadi benar2 menyentuh hati nuraniku, aku sadar selama ini cinta riyan sepenuhnya hanya untukku, dia berbeda dari laki-laki lain, tidak seperti mantan kekasihku dulu, juga tidak seperti laki-laki lainnya yang tidak bertanggung jawab, dan aku tidak ingin kehilangannya.
hingga ku melanjutkan langkahku, tidak untuk pulang ke rumah melainkan kembali ke ruangan tempat mama riyan di rawat.
''ibu,, maafkan aku, aku yang sudah membuat riyan seperti ini'' entah aku harus memulainya dari mana akupun bingung, begitu sampai di depan mama riyan dan di belakang riyan yang masih duduk berhadapan dengan mamanya aku berlulut meminta maaf kepada mama riyan
''nabila,, apa yang kamu lakukan, bangunlah'' riyan kaget melihat aku yang berlulut menangis, dan berusaha membangkitkanku, mamanya pun bangkit dari berbaringnya
''aku janji aku akan menyuruh riyan menikah sesuai apa yang ibu mau'' aku tidak menghiraukan riyan. mungkin mama riyan juga bingung dengan sikapku, karna beliau sendiri belum pernah bertemu denganku.
''aku minta maaf bu, aku nabila, akulah yang di sebut riyan wanita di 5 tahun itu bu, aku yang membuat ibu sampai sakit begini, aku yang membuat riyan jadi membangkang dan tidak mau menuruti omongan ibu'' jeda sejenak, terhenti oleh sendu tangisku, akupun hanya menundukan kepala, tidak berani melihat ke arah mama riyan, aku memang pecundang
''aku tahu, mungkin terlalu baik dan terlalu enak untukku jika ibu begitu saja memaafkanku, tapi dengan penuh penyesalan dan rasa kasih sayang dan cintaku untuk riyan, aku ingin bilang bahwa aku ingin menikah dengan riyan bu, bukan 5 tahun lagi, tapi jika ibu merestui tolong izinkan untuk 5 hari lagi'' ku rasa aku tiddak tahu malu bicara seperti itu, serasa dunia gelap, entah bagaimana reaski dan ekspresi muka mama riyan ketika aku mengatakannya.
''nabila...'' hanya sepertinya riyan kaget mendengar pengakuanku
''ma... maafkan aku yang membangkang perkataan mama, harus mama itu itu hanya karena wanita di 5 tahunku itu, dan sekarang dia ada di sini, di depan mama, dia datang untuk membahagiakan mama, untuk menuruti permintaan mama agar aku menikah, maka, tolong restui kami untuk menikah sesuai dengan pernmintaan mama..'' entah apa yang riyan fikirkan, dia mengikuti tingkah anehku, di sebelahku ikut berlutut meminta maaf kepada mamanya, perlahan aku melihatnya yang diapun melihatku, sungguh bahagia aku menatap kedua matanya, karena dari kedua matanya lah aku menemukan gambaran kehidupan bahagia..
''anak-anak mama yang mama sayangi,, bangunlah, peluklah mama nak...'' mama riyan menangis menghadirkan rasa haru, membuka tangannya untuk sebuah pelukan hangat sebagai restu untuk aku dan riya menikah.
''terimakasih,, mama bahagia..'' ketika kita memeluk mama. rasa haru menyelimuti
''mama,, riyan,, MAAFKAN ATAS EGOKU'' tangis bahagia menyertai ucapan penyesalanku.
Dari kejadian itu demi cinta yang aku punya untuk hidupku, aku berjanji selamanya cintaku hanya untuk riyan, tempatku berteduh saat tiada lagi pegangan, tempatku memegang saat hampir aku terjatuh, dan kini, mulai sekarang aku adalah dia, dia adalah aku, di satukan oleh cinta suci menjadi ''kita''.

                               SELESAI

puisi

                                        Motivasiku
Ibarat mencabut rumput di padang rumput....
terkadang sesuatu yang menggelikan seperti ulat
dan menakutkan seperti ular membbuat hati dan fikiran kita berkata untuk menyerah
meski padahal sudah setengah jalan dan hampir semua rumput tercabut
Namun....
Tidakkah kita sejenak saja untuk berfikir bahwa mungkin kita masih beruntung hanya berhadapan dengan ulat dan ular hanya di padang rumput
bahwa mungkin ada banyak orang di luar sana yang dengan berani melawan singa di padang pasir
Bukankah itu lebih menakutkan?
Maka...
yakinlah kita mampu untuk menaklukkan ulat dan ular
semangat dan semangatlah...
cabutlah semua rumput itu
hingga pada akhirnya kita mampu untuk melihat prmandangan yang indah seluas mata memandang
tanpa rimbun rerumputan...

Oleh; Aya

Jumat, 25 Juli 2014

puisi

                                  SYAIR BERDARAH
Pernahkah kita melakukan hal yang tak bisa di lakukan
pernahkah kita berfikir bahwa kita bisa melakukan apa saja yang bisa kita kerjakan
sempat menyesal bila masa lampau teringat kembali
Ingatlah tiada yang abadi di muka bumi ini
tiada yang kekal bagi manusia untuk menjadi yang terhebat di muka bumi ini
Langkahpun penuh kesesatan
hidupmu penuh penderitaan
bila malam kelam yang nampak berbintang
sendirian terpaku, terdim tak ada kawan
Ribuan jerit tangismu membasahi sekujur tubuhmu
pilu kesedihanmu membuat darah terpacu
uraian kata demi kata
rangkaian bunga yang begitu elok sederhana
bahasa yang penuh bermakna
kedahsyatan tubuh yang mengalir deras darah merah
keringat yang keluar dari kulit indahmu
lelah tetaplah lelah
mengungkapkan isi hatimu melalui duri yang tajam untuk di dengar.

By; Ajl

puisi


                                      PENGAGUMMU
Dikala dulu tak mesti kita bertemu
sesaat bagiku untuk berjalan denganmu
kamu yang memberi semangat dan dorongan untukku hingga tak luput dari segalanya
tak mestinya dulu ku berpaling darimu hanya karena terbawa arus suasana dan lingkungan yang begitu menghancurkan
tersadar saat engkau pergi jauh
dan sekarang cukup memujamu dari balik tirai hitam yang tidak di ketahui oleh orang
Kapankah kita bisa berkenalan lagi?
sudah cukup gembira bagiku
ingin menjadi orang yang sekarang dekat denganmu, bukan pacar, tapi teman
bisa bercanda, ngobrol, curhat seperti teman-temanmu yang lain
tapi bagimu aku hanyalah seorang pecundang yang lari dari kenyataan
sehingga engkau pun tak mau mengambil resiko untuk bisa menjadi temanku
terkadang kau menghindar setiap kali ku memberi kabar seakan tidak ingin lagi kenal denganku
ya sudahlah...
ku hanya bisa mendoakanmu untuk lebih baik lagi untuk menjalani hidupmu
jika kau senang akupun senang
yang ku kenal engkau adalah orang yang kuat menghadapi semua musibah yang pernah kau jalani dulu
dan sekarang engkau hampir mampu memetik cita-citamu yang sangat di banggakanmu
good luck untukmu my best friend....

By; Ajl

Senin, 21 Juli 2014

puisi

                                                 EMOSI SESAAT
Sahabat...
dulu kita berkumpul bersama, canda dan tawa kita bersama
susah, duka, cita, lara kita bersama
namun semuanya telah usai menjadi akhir cerita yang begitu tragis dan menyedihkan
hanya karena sosok makhluk kaum hawa
dia seperti bidadari turun kedunia untuk menghancurkan kita bersama
betapa sempurnanya sosok makhluk hawa itu, dia begitu lincah mempermainkan cinta
semakin lama kita berpisa tak tau entah kemana arahnya, begitupun dengan kalian semua
kalian akan petik buah dari usaha kalian itu
berjuanglah terus menerus sehingga kelak kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan
bersujudlah di hadapan Allah SWT niscaya kalian akan terkabul cita-citanya

oleh; Amir jamaludin

puisi

                                                              YANG TERHINA
Awal mula ku bahagia mendekatimu, tersenyum di depanmu hingga ku tlah jatuh asmara denganmu
raut wajah yang ceria engkau berikan terhadapku, hingga engkaupun bahagia bersamaku, bahagia bersamaku, senang denganku, sampai akhirnya kau jatuh dalam pelukanku
berjalan di tengah kehidupan api membara, tak tahan ku melihat tangismu yang terus mengalir di pipimu, entah karena apa
ku usap dengan kedua tanganku berharap mengahpus luka derita yang kau pendam selama ini.
Saat ku menghilang tanpa ada kabar dariku, kehidupanmu dalam diam kau berfikir seolah ku tak mencintaimu
harapan menjadi sirna....
pergilah bersama orang yang bisa menyayangimu, memberi waktu padamu, yang selalu menasehatimu
bila engkau bersamaku maka engkau akan menderita
tidak bahagia
dan belum tentu kehidupanmu menjadi mempesona laksana bidadari syurga
karena diriku yang selalu terhina....

By; Amir jamaludin