''Duhai tulang rusukku,,pelita hidupku, tahukah kau bahwa ku sangat merindumu, ingin rasanya untuk segera bisa membawamu duduk bersamaku di atas pelaminan, menuntunmu dengan cinta suci di hatiku.
Tunggu aku datang sayang,,, kita akan segera bertemu untuk mulai membangun rumah tangga yang bahagia, namun jikalau tidak aku datang,, ku harap kau masih tetap tersenyum untuk ku...
salam rindu setengah mati
Banyu yoga prasetia - kekasihmu...
Sepucuk surat dari mas banyu akhirnya sampai di tanganku, satu minggu sebelum hari pernikahanku dengannya yang sudah terencana, ucapannya yang romantis, membuatku tersenyum sendiri tersipu malu pada bunga yang menyaksikan yang saat itu sedang ku siram.
''aduh,, aduh,, ada apa sih? pagi-pagi sudah senyum2 sendiri?'' bu de datang
''surat dari mas banyu bude'' jawabku malu2
''oh,, pantesan saja seneng banget, calon mempelai pria mengirimkan burung untuk sang mempelai wanita'' buda menyindirku.
''apa sih bude lebay deh,,'' aku salah tingkah jadinya, mematikan keran air dan duduk di kursi di teras depan rumah bersama bude sarapan pagi bersama
''kapan banyu pulang? kalian tinggal seminggu lagi loh..!!'' bude ingin tahu
''kemarin dia telepon aku, dia bilang lusa baru bisa pulang di jadwalin sama bos nya'' jawabku sambil menyeruput secangkir teh hangat mengawali sarapan pagi.
''sebenarnya menurut adat orang kita kalian itu sudah harus di pingit, kalo sudah satu minggu sebelum hari pernikahan tidak boleh keluar rumah lho..!!'' bude malah menakutkanku
''ah bude jangan ngomong kaya gitu lah, wallahu a'lam, insya Allah mas banyu adalah jodohku'' meski sedikit takut dengan ucapan bude namun aku harus tetap meyakini bahwa hidup dan mati manusia sudah ada yang mengatur, bukan menurut adat atau ramalan
''yo wis lah,, jangan berfikir yang aneh2, cepat habiskan sarapanmu bantuin bude ke kebun metik sayur'' bude mengakhiri percakapan kita dan masuk ke dalam rumah siap2 untuk ke kebun.
Sejak bude bilang tentang adat orang jawa tentang pingitan waktu itu aku jadi kepikiran dengan mas banyu, aku takut kehilangannya.
Hingga tibalah di hari dimana seharusnya mas banyu pulang ke kampung.
''halo,, assalamu'alaikum,, mas jadi pulang hari ini kan?'' aku menanyakannya lewat telepon
''tuulaaliit..tulaaliit...'' tapi kemudian terputus, padahal belum mas banyu menjawab.
saatku mencoba menghubungi lagi dari operator yang menjawab yang berarti nomor mas banyu tidak aktif. aku tambah khawatir
''kenapa kamu ndok..'' bude melihatku yang lagi cemas, bingung dan takut
''handphone mas banyu nggak aktif bude, aku takut dia terjadi apa2'' aku sungguh tidak tenang
''huss,, jangan berfikiran yang nggak-nggak, mungkin dia sedang di perjalanan, batrenya habis atau apa, kamu tenang lah, daripada kamu khawatir gini mending kamu rapihin undangan kamu gih'' bude menrnangkan aku.
1 jam, 2 jam, 3 jam, hingga malam aku tunggu mas banyu belum juga sampai rumah, kecemasanku semakin menguasai hatiku.
''bude, kenapa mas banyu belum juga sampai?'' di larut malam saat bude menyuruhku tidur
''sekarang sudah malam ndok,, mungkin motor banyu ada masalah yang mengharuskan dia untuk bermalam di jalan, kamu istirahat lah, nanti kalo banyu datang bude bangunkan kamu'' bujuk bude
''nggak bude, aku mau menunggu mas banyu sampai datang'' aku menolak bude
''yo wis, bude tidur duluan yah,, kamu jangan kemalaman tidur'' bude pun pergi meninggalkanku sendiri yang masih bolak balik menunggu kedatangan mas banyu di depan pintu.
Hingga pagi yang datngan mendahului mas banyu, aku terbangun saat bude membangunkanku yang tertidur di sofa di ruang tamu semalam menunggu kepulangan mas banyu
''mas banyu sudah pulang bude?'' pertama yang ku tanyakan pada bude, tapi bude hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaanku. berkali-kali aku mencoba menghubungi HP mas banyu masih tidak aktif. dan aku menangis karena itu.
''aku akan ke kota mencari mas banyu sekarang bude'' aku langsung bangkit dan berniat untuk mencari mas banyu
''jangan gegabah melati,, tunggulah sebentar lagi, coba kamu telpon lagi'' saran bude
''tetep nggak aktif bude, tlong restui aku, aku benar nggak bisa seperti ini'' aku mencoba membujuk bude
''tapi kamu tidak tahu dimana tempat banyu bekerja, kamu anak gadis melati, bude nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, cuma kamu satu2 nya yang bude punya setelah ibu kamu meninggalkan kita'' bude tidak mau kalah untuk lebih bisa membujukku
''bude tenang aja, aku bisa jaga diri aku sendiri, aku yakin aku pasti menemukan mas banyu'' lanjutku masih membujuk
''tapi ndok...'' bude pun masih tidak mau kalah
''udah lah bude, melati jalan sekarang yah..'' aku potong omongan bude dan segera ke kamar untuk melanjutkan niatku untuk pergi ke kota mencari mas banyu, karna tidak ada lagi orang yang bisa ku hubungi dari pihak mas banyu, mas banyu adalah anak tunggal, dia tinggal hanya seorang diri di daerah sumedang, ayah dan ibunya sudah meninggalkannya saat dia masih berumur 14 tahun, sama sepertiku yang sudah tidak lagi memiliki ayah dan ibu dan hanya tinggal bersama bude. dia sekarang menetap di jakarta untuk bekerja saat mengenalku 4 tahun yang lalu, pun di jakarta kita saling mengenal, saat aku hanya sebagai pengunjung dan dia pekerja tetap di ibu kota indonesia kita itu.
Tekad dan niat bulatku membawaku sampailah di jakarta, langkahku hanya berbekal cinta untuk menemukan mas banyu. ku datangi tempat kerjanya di salah satu perusahaan produk motor honda yang ada di jakarta.
''permisi mas, numpang tanya, mas kenal sama mas banyu kan? salah satu karyawan disini'' karena aku sendiri kurang tahu apa jabatan mas banyuu di situ
''dia sudah off kemarin mba'' jawabnya
''off..?apa mas tahu dia off berapa hari?'' aku tanya lagi
''kalao itu saya kurang tahu mba, itu urusan banyu dan bos kita'' dia jawab dengan sibuk memeriksa mesin peralatan motor yang masih baru di sebelahnya.
''oohh,, gitu ya? mmm,, mas tahu alamat dia tinggal?'' karena aku juga tidak tahu tempat kos nya, tapi dia tidak menjawab, entah tidak dengar, atau tidak mau menjawab
''aku tunangannya mas banyu, bisa mas tolingin aku?'' ku rasa dia tidak mau memberi tahu karena itu adalah hal yang termasuk privacy
''oh maaf mba, tunggu sebentar aku catat alamatnya'' akhirnya dia mau membantuku menuliskan alamat mas banyu.
Ku tanya satu persatu orang-orang yang sekiranya tahu alamat yang ku bawa itu, tapi masih saja belum ku menemukan orang yang tahu. di sebuah warteg ku menghentikan langkahku sejenak, berniat menyeruput segelas air dingin berharap menghapus sedikit lelah dalam langkahku.
''bu boleh minta tolong buatkan aku segelas teh manis?'' aku mulai memesan
''tunggu sebentar neng..'' ibu warteg menjawab. tak lama menunggu datanglah pesananku
''makannya nggak neng'' ibu warteg menawarkan, aku hanya senyum dan menggelengkan kepalaku menjawabnya
''oh iya bu,, ibu tahu alamat ini nggak..'' tidak ada salahnya aku menanyakan pada ibu itu
''jalan simpang tiga mah emang disini neng, tapi kalo nomer rumahnya ibu nggak tahu tuh, nyu lo tahu kagak?'' dengan logat betawinya dia juga menanyakan pada satu orang laki-laki yang ada di sebelahku yang juga sedang minum disitu. dia mengambil selembar kertas yang tertulis alamat mas banyu yang ku sodorkan ke ibu warteg tadi, ada yang aneh dari ekspresi mukanya saat melihat alamat itu, lama dia melihat, cukup lama kita menunggu jawabannya tahu atau tidak.
''ikut aku'' kemudian dia menjawabnya
''maksudnya mas tahu?'' aku memperjelas. tapi dia acuh, tidak menjawab pertanyaannku dan lanjut bangkit dari tempat duduknya untuk melanjutkan berjalan. aku bingung, aku takut aku hanya di tipu, apalagi posisiku waktu itu ada di kota yang kebanyakan kriminal
''ikut aja neng, mungkin dia tahu, tenang aja dia orang baik2 kok, dia langganan ibu'' sejenak ku melirik ke ibu warteg, dan dia menyarankanku untuk mengikuti laki-laki itu.
meski ragu dan takut, aku akan coba tuk mengikutinya, dengan bismillah ku mulai melangkah.
Smpailah di satu rumah kos sederhana, dia masuk ke dalam rumah itu, aku semakin bingung di buatnya.
''silahkan masuk'' dia memegang gagang pintu memprsilahkan aku masuk. jujur aku takut, tapi dari nomor rumah yang terpampang di tembok samping pintu, rumah itu memang tempat tujuanku. aku masih diam
''kamu mencari banyu kan?'' kemudian dia tanya, masih di depan pintu
''mas kenal mas banyu? apa mas banyu ada di dalam?'' aku mulai senang dan sedikiit lega
''masuklah..'' bujuknya dan tanpa ragu aku masuk ke dalam rumah kos itu.
ku rasa aku akan segera menemukan mas banyu saat melihat gitarnya yang tergeletak di kursi.
''mas temannya mas banyu? mas banyu nya kemana?'' kini kegembiraan yang tergambar di mukaku
''istirahatlah dulu, aku tahu kamu capek'' dia mengalihkan pembicaraan. aku jadi bingung dibuatnya, aku hanya diam.
''di situ kamar banyu'' dan dia bergegas pergi lagi, sungguh sikapnya sangat membingungkanku, tapi aku yakin di situlah mas banyu tinggal, tidak apa lah, akan ku tunggu dia sampai pulang, dia pasti datang. dan ku memasuki kamar yang di tunjukkan teman mas banyu tadi. penat dan lelah di tubuhku perlahan hilang saat ku menemukan fotoku bersama mas banyu di kamar itu, bahagia melihatnya, ingin selalu bersamanya.
''makanlah dulu, waktu makan siang sudah kelewat lama'' membuatku kaget, kedatangannya yang secara tiba-tiba, akupun menghampirinya ruang depan yang membawa satu kotak nasi warteg untukku makan.
''mas satu kerjaan sama mas banyu yah? pasti sudah lama banget berteman sama dia, mas banyu lagi kemana sekarang? kapan dia pulang?'' aku memborong pertanyaan
''tidak usah banyak bicara, makanlah dulu'' dia menyuruh, dan aku menurutinya, sedikit kesal hatiku, karna dia tidak menjawab pertanyaannku, tapi saat dia memainkan gitar mas banyu menemaniku makan kesalku jadi hilang.
''istirahatlah,, anggap kaya dirumah sendiri, aku pergi dulu sebentar'' katanya bergegas pergi setelah aku selesai makan.
''mas mau kemana? pergi-pergi terus? oh mas mau nyari mas banyu yah?'' ku rasa aku sudah seperti orang gila. terlebih saat dia melanjutkan pergi tanpa menghiraukan pertanyaanku. tak apalah, akan ku tunggu mereka pulang.
Sampai malam datang, aku terbangun dari tidurku, aku tertidur saat menunggu mas banyu pulang, tapi bukankah aku tertidur di kursi ruang depan? kenapa sekarang aku ada di kamar?
aku keluar kamar untuk mencari tahu, di kursi ruang depan hanya ada teman mas banyu yang sedang tidur, dimana mas banyu ku rasa dia tidak datang, ingin ku membangunkan dia untuk bertanya, tapi jika ku lakukan itu jelas aku mengganggunya, hari itu aku sudah banyak merepotkannya, biarkanlah saja dulu, tunggu pagi baru aku akan bertanya.
Pagi kemudian....
''selamat pagi mas..'' aku menyapanya yang sedang mengelap motornya di depan rumah
''eh, pagi..'' hari itu ia menjawab di iringi senyuman.
''semalam pulang jam berapa? mas banyu nggak ikut pulang yah?'' aku mengawali bertanya. namun lagi dia tidak menjawab
''aku merepotkan mas yah?'' ku rasa begitu
''semalam aku pulang jam 9, aku lihat kamu ketiduran pules banget di kursi, aku bangunin nggak bangun juga, jadi aku angkat kamu pindahin ke kamar'' ternyata dia yang memindahkanku
''mas angkat aku?? berarti bener yah mas banyu nggak ikut pulang?'' aku jadi tidak enak hati
''aku berangkat kerja dulu, di meja ada roti sama susu kamu seduh sendiri'' lagi dia mengalihkan pembicarakan, mengacuhkanku dan melanjutkan melajukan motornya, entah kenapa setiap kali aku menanyakan tentang mas banyu dia tidak menjawabnya. akupun masuk ke dalam, tak sengaja aku menemukan selembar kertas di atas kulkas saat ku hendak menyeduh susu yang dia beri untukku sarapan tadi, itu surat dari mas banyu yang tertulis;
''selamat pagi melatiku...
aku tahu kamu menghawatirkan aku,,
tapi ketika kamu membaca tulisanku ini, semoga kamu tidak lagi khawatir karna aku baik-baik saja..
maka tetaplah tersenyum untukku....
Yang kau cinta dan yang mencintaimu
Banyu yoga prasetya...
jujur, dengan kedatangan surat itu aku jadi tambah semangat lagi, senyumpun kembali nampak di bibirku.
terlebih saat ku nengok ke arah pintu sepertinya ada seseorang yang sedang memperhatikanku, ku rasa itu adalah mas banyu.
''mas udah pulang yah?'' sore saat ku sedang duduk santai memandangi gitar mas banyu sambil senyum2 sendiri, teman mas banyu pulang, yah, mas banyu meng kos rumah ber dua dengan temannya
''mas namanya siapa sih? padahal dari kemaren kita bertemu tapi aku tidak tahu nama mas'' aku maasih terbawa suasana gembira oleh surat dari mas banyu
''terserah kamu mau panggil aku apa'' jawaban yang aneh, dia sambil jalan ke tempat air minum
''mas, kemaren mas banyu pulang kan?'' aku menanyakan kepastiannya, tapi dia bengong menatapku seakan bingung mau jawab apa
'' tadi pagi aku nemu surat dari dia, dia bilang dia pasti datang'' aku dengan sangat gembira mengatakannya, namun tetap aja dia diam tidak menghiraukan aku, seakan beribu kata2 rahasia di balik tatapan bingungnya terhadapku, entah apa yang dia fikirkan terlebih saat aku bicara dan menanyakan tentang mas banyu
''mas mau kemana?'' dia malah pergi lagi, meninggalkanku sendiri lagi. entah sampai kapan semuanya akan jelas, hari pernikahanku sudah ada di depan mata, tapi mas banyu masih saja sempat-sempatnya begitu..
Hari ke 3 sudah aku berada di jakarta, mencari keberadaan mas banyu, tinggal di kos nya bersama temannya, tinggal tersisa 3 hari lagi untuk melaksanakan pernikahan kita, aku yakin hari itu pasti mas banyu datang menemui aku
''mas, boleh nggak hari ini aku ikut mas pergi untuk mencari mas banyu?'' dia yang lagi duduk santai, ku rasa waktu yang tepat untukku berbicara baik-baik dengannya, tapi masih saja dia diam, sambil memetik perlahan-lahan senar gitar mas banyu
''mas, jawab dong, kenapa sih setiap kali aku tanya tentang mas banyu mas selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan? mas tahu kan kalau 3 hari lagi aku dan mas banyu akan menikah?'' aku menjelaskan. kemudian dia bangkit dari duduk lesehannya yang sambil memainkan gitar.
''ikut aku'' dia menarik tanganku
''kemana?'' aku hanya ingin tahu
''kamu pengen ketemu sama banyu kan?'' ku harap kali ini dia sungguh-sungguh akan membawaku menemui mas banyu. akupun menurutinya.
tapi kok dia malah ke terminal bus?
''kok kesini mas? mana mas banyu?'' aku berusaha bertanya, dia masih diam, malah menarik tanganku dan memasuki sebuah bus tertulis bandung-sumedang di kaca depannya. entah apa maksudnya aku sendiri bingung, saat ku masuk dan ku duduk di kursi sebelahnya.
''maksud mas apa sih? kita mau kemana? dimana mas banyu?'' aku masih ingin tahu, tapi aku tanya di waktu yang salah, ternyata dia tidur. perasaan bingung pun menghantuiku.
Entah berapa jam perjalanan yang di tempuh, akhirnya berhentilah bus yang kita tumpangi, semua penumpangpun turun termasuk aku dan mas teman mas banyu itu.
''apa mas banyu ada disini?'' aku masih tanya
''ikut lah aku'' hanya itu yang ia jawab. tapi aku sama sekali tidak terfikir bahwa mas banyu ada di situ, dia berjalan lurus menuju suatu tempat setelah turun dari bus, aku hanya mengikutinya hingga ke tempat yang ia maksud, dan dia sukses membuatku bingung setengah mati karena dia membawaku ke tempat pemakaman umum, apa maksudnya, hingga terhentilah langkahnya di depan satu makam entah itu makam siapa.
''kenapa mas membawaku kesini?'' aku benar2 bingung. dia tidak menjawab dia hanya menengok ke makam itu dengar raut wajahnya yang terlihat kecewa, sedih dan menyesal, matanya pun terlihat berkaca-kaca. saat ku melihat batu nisan dari makam itu akupun tidak percaya, seperti petir menyambar hatiku, mati rasanya aku saat itu, makam yang sepertinya baru itu tertancap batu nisan dengan tulisan atas nam mas banyu, banyu yoga prasetya bin maskur, wafat 3 hari yang lalu, namun aku masih berharap itu bukan mas banyu calon suamiku.
''mas...?'' aku tidak berani melanjutkan bicara, hanya linangan air mata yang mewakili pertanyaanku terhadap teman mas banyu yang juga menangis
''kamu ingin bertemu dengan banyu, disini lah banyu, maafkan aku'' kemudian dia menunduk dan menangis
''ngaak mas, mas salah, ini bukan mas banyuku, dia bilang 3 hari yang lalu dia udah dalam perjalanan pulang dan akan menikahiku..'' aku masih tetap tenang, meski di hatiku sudah kacau dan linangan air deras mengalir dari mataku
''maafkan aku melati.. 3 hari yang lalu, saat dia akan pulang menemui kamu untuk melaksanakan pernikahan kalian, dia pulang bersamaku, dari temannya yang lain akulah yang dia pilih sebagai temannya yang paling baik, maka dari itu dia menginginkan aku hadir di pernikahannya, pun sama denganku, banyu adalah sahabatku yang paling baik yang ku punya satu2 nya, maka aku dengan senang hati mengantarkannya pulang untuk menemuimu, awalnya semuanya lancar dan baik2 saja, namun naas nya kejadian itu terjadi, di tengah terik matahari yang menyengat, mungkin dia merasa haus, ku berhentikan laju motorku saat dia memintaku berhenti sejenak untuk membeli sebotol minuman segar untuk menghilangkan dahaganya, saat aku turun dari motor dan memasuki warung kopi di pinggir jalan untuk membeli minuman itu, sebuah mobil truk datang dari arah depan dengan keadaan supirnya yang sedang ngantuk, aku melihat banyu sangat gembira memandangi fotomu dan menciumi cincinnya yang melingkar di jarinya, kurasa itu adalah cincin tunangan kalian, dia tidak menyadari bahwa truk yang melaju kencang itu berjalan kearahnya yang supirnya meleng menyetirnya sehingga....'' dia melanjutkannya dengan tangis, mejelaskan dengan jelas tentang kejadiannya. air mata sukses mengalir deras di pipiku
''nggak,, aku nggak percaya, mas bohongin aku'' aku masih tidak percaya, yang kemudian histeris dan jatuh terdampar di sebelah makam yang ia maksud makam mas banyu itu. aku menangis sejadi-jadinya, kemudian sentuhan pelukan menyentuh tubuhku, kurasakan dalam dekapan mas banyu, hangat dan nyaman yang itu adalah pelukan dari teman mas banyu.
''maafkan aku kemarin, surat yang kamu baca itu ada lah tulisanku, aku tidak tega mengatakan ini semua padamu, bahkan akupun tidak berani memberitahumu siapa namaku hanya karna aku takut kamu hanya akan mengingatnya'' dia mengakuinya, tapi aku masih menangis
''namaku juga banyu, banyu pratama jelasnya, sebelum banyu pergi, dia menitipkan cincin ini, dia sendiri yang pakaikan di jari aku, dia memintaku untuk tidak langsung bicara sama kamu, dia tahu kalau akhirnya kamu akan datang ke jakarta untuk mencarinya, dia menyuruhku untuk menjagamu selama itu, itu alasannya kenapa aku selalu menghindar setiap kali kamu menanyakan keberadaan banyu'' lagi dia menjelaskan, sendu menghebohkan tangisku.
''kamu sudah mengetahui semuanya, kurasa sudah seharusnya akku mengembalikan cincin banyu sama kamu'' dan dia melepaskan cincin yang melingkar di jarinya itu, namun aneh,, cincin itu tidak dapat lagi ia lepaskan, serasa sudah menyatu dengan jarinya, entah itu berarti apa.
Meski sulit untukku percayai tentang kenyataan ini, namun aku harus tetap menerimanya, dan meyakini bahwa ini semua adalah takdir dari Allah, mungkin cinta-Nya ke mas banyu lebih besar dari pada aku, maka Allah ingin memilikinya seutuhnya dan tidak menjodohkannya untukku, dan aku hanya bisa berdo'a semoga mas banyu bisa bahagia di sisi Allah...
''melati,, apa yang terjadi ndok,, mana banyu'' mas banyu temannya mas banyu mengantarku pulang kembali ke rumah budeku di magelang, rumah sudah ramai, pajangan rias pengantin sudah banyak yang terpampang menghiasi rumah budeku yang di situlah akan di laksanakan upacara pernikahanku dengan mas banyu tadinya, dan itu membuatku serasa benar2 mati, entah apa yang terjadi padaku, tubuhku melemah dan aku terjatuh, setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, saat ku buka mata sepi yang kurasakan
''kalau begitu aku pulang dulu bu'' suara mas banyu temennya mas banyu terdengar, di luar kamarku pamitan sama budeku untuk pergi, tapi rasanya hatiku tidak rela dia pergi
''iya, terimakasih banyak yah dek sudah mau mengantarkan melati kembali ke rumah'' bude menjawab
''mas banyu.....'' aku teriak menghentikan langkahnya.
''aku harap kamu bisa memaafkan aku melati'' katanya setelah aku berada di depannya
''cincin kamu, aku kembalikan'' tadinya masih susah untuk di lepas, tapi perlahan-lahan bisa terlepas juga. mungkinkah itu pertanda bahwa mas banyu sudah tenang melihatku sudah kembali ke rumah dengan selamat? mungkin iya, mungkin juga tidak. aku menerima cincinnya, dan dia berbalik badan berniat untuk pergi meninggalkanku.
''mas banyu jangan pergi...'' saat beberapa langkah ia mulai berjalan, hatiku terasa sangat sakit, aku sedih, sepertinya aku tidak menginginkan kepergiannya. tak sadar aku telah memeluknya dari belakangnya.
''melati...'' mungkin dia kaget, akupun jadi tidak enak hati, namun entah mengapa, tanganku semakin erat memeluknya, dan semakin tidak ingin melepaskannya.
tidak ku sangka akan seperti ini jadinya, semoga ini bukan lagi cinta, karna aku hanya mencintai mas banyu yang aku punya.
Mas banyu... aku mencintaimu selamanya....
dan aku akan tetap tersenyum untuk banyu....:')
SELESAI