Dari awal, alasan aku berada di sini ialah untuk mencari bekal masa depanku bersama adinda, kekasihku yang sangat aku cintai, 3 tahun sudah berlalu aku merantau ke negara tetangga, di salah satu perusahaan kawasaki di jepang aku menetapkan sebagai karyawan, akupun tidak pernah memikirkan hal lain selain kembali ke samping kekasihku dan untuk mempersuntingnya menjadi bidadari di hidupku yang dengannya aku akan melewati dan merasakan susah senang bersama dalam menjalin rumah tangga, kita berdua sudah yakin bahwa tuhan sudah menggariskan takdirnya kepada kita untuk berjodoh, 5 tahun kita mengenal, dan 4 tahun kita menjadi sepasang kekasih adalah suatu hal yang membuat kita semakin terikat erat enggan untuk menjadi satu.
Hari itu, di tengah sibuk hariku dengan pekerjaanku, bukannya aku melupakan kekasihku, bukannya aku tak merindukan adindaku tercinta, hanya saja mungkin waktu itu pekerjaanku yang berada di tingkat terpenting, itupun aku bertahan lakukan hanya untuk agar bisa membahagiakan kekasihku. Rinduku semakin berlabu kala ku melihat 3 pesan singkat masuk di HPku, dari yang tercatat, itu ku terima sekitar 3 jam yang lalu, tepatnya sekitar jam 3 siang, di jam itu lah sangat kebetulan sedang sibuk-sibuknya aku, pesan singkat itu tertulis sebagai berikut, pesan pertama:''sholatlah dulu, sebelum kita di sholatkan'' kata itu lah yang paling aku suka darinya, membuatku bangga dan beruntung. Lagi pesan ke dua:''mas yoga, kapan pulang mas? aku sangat merindukan mas, pengen bertemu meski untuk yang terakhir kalinya, meski hanya sebentar saja'' ada yang ganjal disini, kurasa kekasihku saat itu bukan hanya sedang merinduku saja, sejauh kita berhubungan serindu-rindunya dia terhadapku tidak pernah ia berkata seperti katanya di pesan singkatnya itu.
Kemudian di pesan yang terakhir ku trima di waktu yang sama, pesan ke tiga:''mas yoga kekasihku yang sangat ku cintai.. mungkin saat kau kembali di rumahku sudah ramai, jikalau saat kau kembali kau tak menemukanku di manapun, datang lah di padang ilalang tempat terakhir kita berjumpa dulu, tanyakan pada ilalang atas keberadaanku, mereka tahu dimana aku berada kala itu, karna mungkin akupun akan menjadi salah satu diantara mereka, untuk menemanimu mas, maafkan aku..'' begitu katanya, jujur aku menjadi bingung di buatnya, dari setiap ucapannya di pesan singkat terakhirnya itu bahkan aku tidak mampu menemukan kesimpulannya, tidak aku buang waktu untuk bertele-tele, harus aku menelponnya langsung untuk meminta penjelasan dari semuanya, namun, berkali-kali aku menghubungi, selalu tidak aktif, jadi gelisah dan khawatir hatiku
Maka, ku balas satu persatu dari 3 pesan singkatnya itu, pesan pertama ku balas:''maafkan aku adindaku, saat masuk pesanmu aku sedang sibuk, tapi aku masih bisa sholat kok''
kemudian pesan selanjutnya:''sayang,, akupun sangat merindukanmu, akupun ingin bertemu denganmu, aku janji aku pulang nanti aku langsung melamarmu, kamu jangan bicara seperti itu, kita akan bertemu dan bersama selamanya''itu jujur dari dalam lubuk hatiku
dan pesan terakhir ku balas untuk menyuruhnya mengaktifkan hp nya dan menjawab telepon dariku, namun sama sekali tidak ada jawaban, dari sejak saat itu aku melai kepikiran, kegelisahan dan ketakutan menjelma menjadi satu berkelabu di hati juga fikiranku, bahkan sudah terfikir olehku akan pergi ke bandara malam itu juga untuk boking tiket penerbangan secepatnya, namun kufikir aku harus memikirkannya dengan serius.
Hingga pagi tiba, masih saja aku belum bisa memutuskan kapan akan aku pulang, belum juga adinda membalas pesanku atau setidaknya memberiku kabar, sampai pada akhirnya ku beranjak pergi ke tempatku bekerja, tapi hari itu bukanlah untuk bekerja seperti hari biasanya melainkan untuk memberikan surat keterangan ku untuk cuti beberapa bulan, tiba di kantor atasan, belum aku menyampaikan niatku, beliau sudah mendahuluiku berbicara, beliau bilang sudah mendengar kabar bahwa aku akan menikah entah dari siapa, maka beliau memberiku waktu beberapa bulan untuk off kerja, bukan hanya itu, beliaupun sudah menyiapkan tiket penerbangan untuk lusa, tidak ku menyangka semuanya serba kebetulan.
''adindaku tercinta, tunggu aku kembali sayang...'' gembira hatiku berbisik merindukan adinda.
Waktu ku rasa sangat lama berputar, dari detik ke menit, dari menit ke jam karena mungkin yang ku tunggu hanyalah kabar dari adinda, ingin ku memberitahunya bahwa 2 hari lagi kita berjumpa dan aku akan segera memlamarnya, menyuntingnya sebagai ratu di hidupku, namun hpnya tetap saja tidak aktif, aku coba telepon ayah dan teman-temannya pun tidak ada jawaban, apa yang mereka rencanakan sebenarnya? mungkinkah kedatanganku akan di sambut oleh orang banyak seperti apa yang adinda katakan di pesan singkat terakhirnya itu? jika benar, tapi mengapa dia bilang bahwa aku tidak akan menemukannya? Entahlah...
Sampailah aku di hari itu, menunggu cukup lama di airport untuk memasuki awak pesawat yang tertulis di jadwalkan 1 jam lagi untuk lepas landas, ku pandangi foto kekasihku yang seakan memberiku kekuatan dan menghapus rasa lelah dan gelisah di hatiku.
''adinta cintaku... sebentar lagi kita akan bertemu'' suara hatiku mengakhiri waktuku tuk menunggu, saat aku mendengar pengunguman penerbangan pesawat, aku jadi gugup, sampaai selembar kertas yang bergambar adinda itu terpisah dari genggamannya tertiup angin dan entah terdampar dimana, ingin ku memcoba untuk mencari, tapi semua penumpang sudah memasuki pesawat dan tersisa waktu hanya 20 menit waktu untuk penerbangan, terpaksa aku meninggalkan dan membiarkan foto adindaku melayang entah kemana.
''hhmm,, biarlah, lewat beberapa jam lagi aku akan berjumpa langsung dengan orangnya, adinda, aku datang...'' yang tersirat di hatiku menyembangatkan langkahku, mengundang kegembiraan yang tidak terkira karna akan bertemu dengan sang kekasih tercinta.
Melewati 7 jam di udara membawaku sampai di negara tercintaku, dan hanya tersisa beberapa jam lagi aku akan bertemu kekasihku.
Dan akhirnya datanglah waktu yang ku tunggu-tunggu, sampai sudah aku di rumah adinda, tapi mengapa yang di katakan adinda di sms itu benar terjadi? ada apa di dalam rumah? mengapa ramai sekali? orang-orang kebanyakan mengenakan baju berwarna hitam, itulah warna duka. Sebuah tanda tanya besar menjelma hatiku.
''yoga..'' aku bertemu ridwan, teman SMP ku dulu, juga tetangga adinda, dia terkejut melihat kedatanganku
''wan, apa yang yang sudah terjadi?'' aku hanya ingin tau, sama sekali tidak terfikir olehku terjadi hal-hal yang tidak di inginkan yang menimpa adinda dan kelauganya
''kamu yang sabar ga..'' begitu jawabnya sambil menepuk punggungku, juga tergambar kesedihan dan penyesalan di raut wajahnya, aku masih tidak mengerti apa maksud perkataan ridwan
''Ada apa?'' Aku tanya lagi
''masuk lah ke dalam'' mungkin dia tidak mau menjelaskannya padaku.
Langkah kakiku gemetaran melaju dengan cepat ke dalam rumah adinda.
Tidak percaya, itu yang harus ku akui waktu itu, bumi seakan bergetar kencang mengombang-ambingkan batin dan jiwaku, jika yang ku lihat saat itu adalah benar, aku ingin buta saja, tidak ingin ku melihat dan mengalami semua itu,
Melihat adindaku tercinta tergeletak di depan mataku, terdapat kapas di hidung dan telinganya, pucat wajahnya, kain kafan sudah terpakai rapi di tubuhnya. Jatuh rasanya jantungku, benarkah adindaku telah pergi untuk selamanya....?
Mengapa....?
''Yoga, maafkan bapak tidak memberimu kabar berita apapun tentang adinda, karna dia yang meminta bapak untuk tidak menceritakannya padamu, satu hari sebelum dia koma, dia pergi entah kemana, dia bilang kamu sudah pulang dan akan menemuimu untuk menceritakan penyakit yang di deritanya yang kata dokter sudah menyerangnya sekitar 2 tahun yang lalu, bapak pun kecewa dengan sikapnya yang tidak memberitahukan apa-apa tentang penyakitnya itu kepada bapak sendiri, dokter bilang dia terserang kanker darah yang akhirnya pada hari ini telah merenggutnya dari bapak'' ayah adinda bangkit dari duduknya di sebelah adinda dan menangis kemudian menghampiriku yang masih kaku dan kaget.
Tapi aku pergi dari rumah adinda dan meninggalkan mereka semua, air mataku berceceran keluar dari mataku, aku tidak percaya, aku tahu sebenarnya adinda yg sesungguhnya itu ada di padang ilalang yang seperti ia bilang, dia sedang menunggu kedatanganku.
''Adinda.. adinda dimana kamu? aku sudah kembali, aku akan memenuhi janjiku untuk menikahimy, kita akan hidup bahagia bersama''aku berteriakdi sertai sendu tangisku setelah aku sampai di padang ilalang yg luas tempat kami merangkai ceritaa bersama dulu
''Adinda.... jangan pergi...'' sekali lagi aku mencoba, ternyata masih perih rasanya, adinda sama sekali tidak datang, ''tuhan,, mengapa kau tak hancurkan aku juga...?'' Penyesalan hatiku memprotes sang maha takdir
''Yoga,, adinda akan segera di antarkan ke pemakaman, sebaiknya kamu ikut saya kembali ke rumah untuk mengikuti pemakaman adinda'' mas sunan, kakak laki-laki adinda menghampiriku
''Aku akan menunggu adinda disini mas, adindaku masih hidupm dia bilang dia akan menunggu kedatanganku disini, hanya saja mungkin dia masih dalam perjalanan dan aku akan menunggunya sampai ia datang'' aku seperti orang gila waktu itu
''Yoga,, kasihanilah adinda, kamu tidak boleh trus seperti ini, dia pasti tidak akan tenang.
Perkataan mas sunan menyentuh sanubariku, seakan tersadar aku dari mimpi, dan akhirnya aku ikut bersama mas sunan untuk mengantar adinda kekasihku untuk di makamkan.
Setelah pemakaman selesai, aku bergegas kembali ke tempat itu
Adinda kekasihku... biarpun butiran tanah hitam itu menghilangkanmu dari pandanganku, namun mereka tidak mampu menghilangkan rasa cinta di hatiku, percayalah sayang,,, aku akan terus menunggumu sampai kau kembali datang menyapa hidupku. Dan disini, di tempat ini bersama ilalang aku akan terus menunggumu meski di setiap hariku selalu ada tanya
''Adinda... kapan kau datang....?''
Selesai.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar