''Denger si dia jomblo lagi tuh rasanya kaya membelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bersama paus akrobatis menuju rasi bintang paaaling manis'' begitu kata maxwel sepertinya sambil berandai-andai, padahal dia baru saja tiba di kosanku, bisa ketebak sih kalau dia seperti itu pasti lagi seneng
''hhmm.. cofee god day itu mah'' aku asal tebak hanya bercanda
''aku serius ras, hari ini aku lagi seneng banget'' akhirnya maxwel mengakuinya
''kenapa sih? lagi naksir cewe ya kamu? siapa yang lagi jomblo?'' aku ingin tahu, kemudian maxwel mengambil HP di sakunya
''lihat deh..'' dia sambil menyodorkan HPnya memperlihatkan apa yang menyebabkan dia sebahagia saat itu. Dari kolom beranda facebook tertulis ''jomblo, sepi banget..'' 13 minutes ago, seperti itu status terbaru dari miranda, perempuan yang sangat maxwel kagumi, melihat sikap maxwel seperti itu sejujurnya aku kecewa, ternyata dia masih saja menginginkan untuk menjadi kekasih miranda, padahal dia sendiri tahu sikap dan sifat miranda kaya apa, yang salah satunya seperti pulang pergi dari rumahnya ke kampus sudah ada yang mengantar dan menjemput bukan satu atau dua orang, tapi berbeda-beda dengan membawa motor dan mobil mewah, bagaimana dengan maxwel yang kuper, kutu buku dan hanya berkendara vespa yang ia bawa dari kampung, di fikir secara logika sudah jelas pasti miranda menolaknya, sebagai sahabat baiknya sejak dari TK, aku tidak tega dengannya jika itu benar2 terjadi.
''terus kamu mau menyatakan cinta kamu kepada miranda dan memintanya untuk menjadi pacar kamu gitu?'' dalam hatiku berharap maxwel menjawab tidak
''mmm...'' nampaknya dia ragu, atau malu mengatakannya padaku
''maxwel... apa kamu serius? kamu kayak nggak tau miranda aja.'' aku mencoba menyadarkan hati maxwel dari serangan panah asmara miranda
''tapi mestinya kamupun tahu bahwa aku sudah lama mengagumi miranda'' dia mewakili perasaan cintanya terhadap miranda.
Dari jawabannya yang seperti itu aku tidak lagi bisa berkata apa.
Keesokan harinya saat kita hendak pulang selesai kuliah hari itu, sikap maxwel sudah berbeda dari biasanya, dia keluar dari kelas saja tidak menghiraukan aku
''miranda..'' aku mendengar maxwel memanggil miranda, di depan gerbang kampus dari jauh ku lihat nampaknya miranda sama sekali tidak menghiraukan maxwel, hanya nengok sekilas
''maxwel..'' aku memanggilnya dari arah belakangnya, maksudku agar maxwel tidak lagi memperhatikan miranda, tapi yang terjadi malah sebaliknya dari harapanku, maxwel malah mendekati miranda yang sedang tengak tengok kanan kiri seperti sedang menunggu seseorang, hhmm,, ya sudahlah, ku biarkan saja dulu
''sendirian aja..'' terdengar dari jarak kurang lebih 1 meter dari maxwel dan miranda
''nggak, aku berdua'' miranda jawab, tapi matanya tidak terjutu kepada maxwel yang kemudian melambaikan tangannya kepada seorang laki-laki yang baru saja datang dengan motor kawasaki ninja berwarna birunya itu. melihat raut wajah maxwel yang tadinya ceria, kini spontan menjadi kecewa karna kejadian itu
''Lihat,, apa kamu yakin ingin menjadi kekasih miranda?'' Aku kemudian mendekatinya
''aku akan tetap mencoba tuk berusaha demi cinta miranda, ya... semangat!!!'' dia mulai lebay, dengan gayanya yang mengepalkan tangannya dan bergaya seperti mendiyang presiden pertama RI bapak soekarno
''wel, hari ini kita ke panti yuk'' itu kebiasaan aku dan maxwell di setiap harinya, sangat akrab dengan anak-anak panti asuhan
''mmm... kayanya hari ini aku nggak bisa deh'' ku rasa dia gugup
''kenapa..?'' jelas aku ingin tahu alasan jelasnya
''mmm... itu,,, mmm... mau nyelesain skripsi, iya..'' aku rasa ada yang aneh dari sikap maxwel saat itu, ku rasa itu hanya omong kosong untuk alasan saja, tapi kenapa maxwel begitu?
''oh,, ya udah, kalau gitu aku aja yang ke panti sendirian'' aku tidak mau banyak omong, mungkin alasan maxwel benar. Dan kita pun pulang ke tempat kos masing-masing.
Hari itu saat tiba di kos, ada niat baik di hatiku untuk membantu maxwel menyelesaikan skripsinya yang ia bilang, tadinya aku ingin ke panti, tapi ku rasa sahabatku sedang di landa kesibukan, untuk ke panti bisa saja di tunda besok atau lusa pergi bersama-sama maxwel
''tok,, tok,, tok,,'' ku ketuk pintu tiga kali begitu sampai di kosan maxwel, diapun membuka pintunya dan menemuiku di luar
''maxwel...???'' aku terkejut melihatnya, melihat penampilannya yang 100% berubah, dari gaya rambutnya, pakaiannya, sampai kacamata kupernya pun berbeda dari sebelumnya, berasa mimpi, ada apa dengan maxwel
''saras,, ternyata kamu..'' sammbutnya
''kamu lagi kenapa sih wel? kamu mau kemana? keren banget...'' aku masih tidak percaya, memutari maxwel berusaha mencari jawaban
''aku mau ke rumah miranda, pengen mengajaknya nge-date'' dia sambil senyum2 sendiri. Ternyata itu alasannya, sama sekali tidak terfikir olehku
''haahh?? kamu yakin? pake vespa kamu itu?'' aku
''iyalah..'' jawabnya singkat, namun penuh keyakinan
''tapi bukannya kamu bilang mau nyelesaiin skripsi??'' aku percaya aja, karena selama aku sahabatan dengan maxwel dari TK dia tidak pernah berbohong
''mmm,,, udahlah, kamu sendiri bukannya kamu bilang mau ke panti? (diam sejenak) ya udahlah, kamu pulang gih, aku udah mau jalan'' apa dia mengusirku? sedikit rasa kecewa menjelma dalam rasaku, dan kemudian dia pergi mendahuluiku yang masih berdiri di depan pintu kosannya. ya sudahlah,, sebagai sahabat yang baik aku akan selalu mendukung, maxwel senang, akupun ikut senang.
Hingga malam tiba ku hanya di rumah, sendiri kesepian, nonton TV sendiri, tidak seperti biasanya selalu ada maxwel, belum juga dia menjadi kekasih miranda saja aku sudah merasa kehilangan, apa mungkin jika mereka sudah menjadi sepasang kekasih, maxwel akan melupakan aku dan persahabatan kita?
''saras...'' terdengar seperti suara maxwel memanggilku dari luar, dan aku segera bergegas tuk menemuinya
''maxwel... aku kira kamu udah lagi nge-date sama miranda'' tebak ku menyambut kedatangan maxwel dan duduk di sebelahnya yang duduk di teras depan
''kamu bisa nggak bantu aku?'' dengan tampangnya yang melas
''kenapa?'' padahal aku sudah tahu tentang apa yang akan dia katakan pasti tidak jauh berkaitan dengan miranda
''bisa nggak cariin aku pinjaman motor kawasaki yang lagi ngetrend sekarang'' apa lagi itu?? yang ku rasakan itu bukanlah sifat maxwel
''haahh?? untuk apa wel?'' jelas aku kaget, karena pintanya saat itu mulai aneh
''pleaseee,,, sehari aja..'' dia memohon padaku, tapi tidak menjelaskan alasannya
''kamu jangan gila dong, kok bisa sih kamu senekat ini hanya karena bisa nge-date ama miranda iya?'' aku kecewa
''please ras, sehari aja, please bantuin aku, kamu kan sahabatku yang paling baik, yah,, yah,, yah??'' dia tidak menyerah merayuku, aku jadi tidak tega, bukan karna maxwel memuja muji ku, hanya karena aku ingin menjadi yang terbaik dan bisa melihat sahabatku senang
''ya udah,, aku akan coba pinjam ke mas hadi, adik ibu ratih, boleh atau nggaknya, besok sebelum berangkat kuliah kamu kesini'' ibu ratih adalah ibu kos ku
''serius?? makasih ras, kamu memang sahabatku yang paling baik..'' maxwel sangat gembira, dia memelukku dan kembali pulang setelahnya.
Setelah dia pulang, aku mendatangi rumah bu ratih untuk menemui mas hadi bermaksud untuk membicarakan permintaan maxwel tadi, untungnya bu ratih dan keluarganya adalah keluarga yang budiman dan suka menolong, begitupun mas hadi yang juga adik kandung bu ratih, alhasil aku mendapatkan apa yang maxwel inginkan, mas hadi membolehkan dan meminjamkan motornya padaku, meski ragu ku lakukan itu semua, tapi aku akan berusaha bahagia karena dengan itu maxwel pun bahagia.
Sampailah waktu membawa di esok hari...
Ku lihat kedatangan maxwel pagi-pagi sekali menghampiri, penampilannya yang gagah dan tambah membuatku merasa asing, jujur aku lebih suka maxwel yang dulu, yang kuper, culun, dan setia dengan vespanya tanpa memikirkan untuk mengganti kendaraanya dengan kawasaki ninja motor berkelas waktu itu
''gimana ras? apa boleh?'' masih dia bertanya padahal sudah melihat motornya di depan matanya sendiri
''apa kamu nggak melihatnnya?'' entah kenapa aku jadi kesal dengan sikapnya
''saras sahabatku yang paling baik yang paling aku sayangi, makasih banyak...'' dan lagi dia memelukku, dan aku tersenyum dalam peluknya, entah itu senyum bahagia atau kecewa.
Dengan suasana hati yang bahagia akhirnya maxwel meluncur ke kampus dengan menggunakan motor besar berkelas itu, tersirat di hatiku rasa bahagia dan kecewa, bahagia melihat maxwel bahagia, tapi kecewa melihatnya seperti itu. Aku rasa semenjak dia tau tentang miranda jomblo, kita menjadi jauh, aku sendiri sangat merindukan maxwel sahabatku yang sebenarnya, beberapa hari itu juga kita sendiri sendiri berangkat ke kampus, termasuk di hari itu.Saat tiba aku di kampus benar2 kaget setengah mati melihat miranda dan maxwel berduaan di halaman kampus ku rasa karna maxwel berkendara ninja deh, mereka terlihat akrab sekali, apalagi dengan senyum dan rayuan manja miranda terhadap maxwel, entah kenapa hatiku perih saat melihat semua itu, padahal harusnya aku senang bisa membantu maxwel hingga akhirnya dia bisa sedekat itu dengan miranda, dia sudah benar2 merebut maxwel dariku. Dan ku biarkan semua itu berlalu.
Malam yang dingin malam itu aku hanya sendiri lagi, tanpa maxwel lagi, dan ingin di kesendirianku ku habiskan waktu santaiku di cafe langgananku dan maxwel, meski tanpa maxwel ku tetap menikmati secangkir kopi yang menemaniku malam itu, tapi tanpa sengaja aku melihat miranda duduk berdua bersama seorang pemuda yang sepertinya itu maxwel, apa mungkin mereka sudah pacaran?, melihat mereka berdua aku jadi ingin meninggalkan tempat itu, sedih rasanya melihat maxwel melupakanku, dan akupun keluar dari cafe hendak kembali pulang, kemudian HPku berbunyi tanda ada satu panggilan masuk, setelah ku lihat ternyata itu dari maxwel, ''lagi pacaran masih sempat2nya telpon aku'' begitu fikirku
''saras kamu di mana? aku di kosanmu sekarang'' kata maxwel begitu aku menerima panggilan telepon darinya
''haah? bukannya kamu sedang nge-date sama miranda?'' karna baru saja aku melihat miranda dengan seorang laki-laki
''nggak, cepat pulang aku mau balikin motor mas hadi'' jawabnya, aku jadi bertanya-tanya sendiri, jika maxwel tidak disini terus yang bersama miranda tadi siapa? ternyata tanyaku langsung mendapat jawaban, tiba2 miranda dan laki2 itu lewat di depanku, mereka terlihat sangat mesra, sekilas mirandapun melihatku, aku jadi bingung di buatnya, apa maxwel dan miranda belum jadi sepasang kekasih?. Tanpa menjawab pertanyaan dari maxwel aku mematikan telepon dan langsung pulang untuk menemui maxwel yang sedang menungguku
''Kamu kemana aja sih?'' Melihatku berjalan menghampirinya, ttidak jauh letak cafe itu dari kosanku
''Wel, kamu sama miranda gimana sih?'' Aku ingin tau sebenarnya
''Gimana apanya? Aku sama miranda baik2 saja ko'' hanya itu jawabannya, seakan tiada lagi kata yang ia ingin curahkan padaku seperti biasanya
''Kalian pacaran..?'' Aku langsung menanyakan inti dari permasalahannya
''Mmmm,,, kasih tau nggak yeah...?(diam sejenak bergaya mikir) yeah,,, aku sama miranda sudah jadian...'' sambil teriak dia jawabnya.
''Secepat itu???'' Aku kaget mendengarnya, berati yang aku takutkan sudah terjadi, miranda hanya mempermainkan cinta maxwel, tapi harus bagaimana aku membicarakan apa yang aku lihat tadi kepada maxwel? Mengingat maxwel sangat mengagumi miranda sampai nekat berbohong demi terlihat sempurna di mata miranda, aku takut dia patah hati. Aku diam memikirkan hal itu
''Antarkan aku ke tempat mas hadi, aku ingin meminjam lagi motornya, kira2 boleh nggak ya..?'' Ujar maxwel
''Untuk apa lagi wel?'' Padahal sudah bisa aku menebak alasannya
''Besok miranda memintaku mengantarkannya ke salon, masa aku harus pake vespa sih nganterin pacarku yang cantik ke salon?'' Bahkan dia melupakan vespa kesayangannya itu, maxwel benar2 seperti di hipnotis oleh miranda
''Wel, ada satu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu'' ku fikir sebelum maxwel melangkah lebih jauh, aku harus memberitahunya tentang siapa miranda
''Udahlah ngomongnya nanti aja, sekarang antarkan aku dulu, yh.. yah..?'' Tapi dia tidak mau tau
''Tapi wel..'' melihat raut wajah maxwel lagi aku tidak ada keberanian untuk mengatakannya, padahal dia sudah siap untuk mendengarkan ceritaku
''kenapa? cepat ngomong'' katanya. Tapi aku malah diam, aku takut menyakiti hati maxwel
''Ya udahlah lain kali aja ngomongnya,sekarang anterin aku yuk'' dia masih merayuku. Akhirnya aku turuti pintanya, masalah apa yang aku lihat tadi, biarlah menjadi rahasiaku dulu, lagian belum tentu itu adalah pacarnya miranda.
''Mas hadi, kebetulan mas ada di rumah, maxwel mas, sahabatku yang kemaren minjam motor mas'' rumah bu ratih tidak jauh dari kosanku, hanya dengan jalan kaki kurang lebih 5 menit aja sudah sampai, aku memperkenalkan maxwel saat tiba dan bertemu mas hadi, karna sebelumnya mereka belum pernah mengenal
''Senang bisa ketemu mas..'' mereka berjabat tangan saling memperkenlkan diri
''Udah nih pinjam motornya'' mas hadi memulai percakapan, aku jadi tidak enak hati padanya, mungkin juga dengan maxwel..
''Mmm,,, justru aku ingin membicarakan itu pada mas hadi'' maxwel tegang sekali
''Boleh nggak aku sewa motornya mas, maaf sebelumnya sudah merepotkan mas hadi, tapi aku sangat membutuhkannya mas, untuk bayarannya mas minta berapa aku coba sanggupi + motorku sebagai jaminannya'' akhirnya maxwel lanjut bicara
''Maxwel..?'' aku kaget dengan permintaannya itu, benar2 di luar bayanganku''Memangnya kamu butuh berapa hari?'' mas hadi meladeni maxwel
''Kurang tau sih mas, tapi aku bisa mastiin kurang dari satu minggu kok'' jelas maxwel
''Maxwel,, kamu tidak perlu senekat itu'' aku hanya care sama sahabatku
''Oh, ya sudah nggak papa jika untuk 3-4 hari'' jawab mas hadi lagi, bersedia
''Serius mas??, oh makasih banyak mas hadi'' terlihat senang di muka maxwel, dan aku tidak di anggap.
Keinginan maxwel sudah hampir terpenuhi, dengan begitu miranda lebih bisa membohongi maxwel, pagi itu aku berangkat ke kampus berdua dengan maxwel, senang bisa lagi bersama sahabatku, tapi setelah bertemu miranda aku di lupakan begitu saja.
''pagi cintaku...'' sapa miranda pada maxwel sambil merangkulnya
''Pagi miranda..'' jawab maxwel, dan aku mulai di acuhkan
''Miranda, semalam kamu sama siapa?'' aku coba2 tanya untuk jelasnya
''Aku?? aku,, aku di rumah tidak kemana-mana'' jelas sekali dia berbohong, dia juga gugup menjawab
''Kamu yakin?'' kata ku
''Kamu kenapa ras?'' Tanya maxwel mungkin penasaran
''Mmm,, cinta,, katanya kamu mau anterin aku ke salon hari ini?'' Miranda mendahuluiku berkata
''Iya, kamu jam berapa maunta?'' Maxwel kembali meladeni miranda
''Maxwel...'' marah hatiku melihat maxwel di perlakukan seperti itu oleh miranda
''Kamu kenapa sih saras'' maxwel sendiri bingung atas sikapku
''Aku nggak suka kamu pacaran sama miranda'' gemetaran sebenarnya kakiku akibat mengatakannya, tapi emosiku sudah tidak bisa lagi ku tahan
''Saras..'' maxwel kaget, memelototiku
''Miranda tidak tulus mencintai kamu wel, dia ada orang lain selain kamu'' akhirnya ku katakan semuanya
''Saras... apa maksud kamu bicara seperti itu?'' tapi maxwel terlihat sangat marah
''Wel aku serius, tadi malam aku melihat miranda sama laki2, tadinya aku kira itu kamu, tapi setelah kamu menelponku dan bilang kalau kamu ada di kosanku aku tau yang bersama miranda itu bukan kamu'' aku mencoba menjelaskan
''Saras,, apa salah aku sama kamu sampe kamu memfitnah aku seperti itu'' miranda memutar balikkan fakta, seolah aku yg berada di letak kesalahannya
''Nggak wel, aku nggak bohongin kamu, miranda yg bohong wel, percayalah sama aku'' aku tidak mempedulikan miranda, yg terpenting maxwel bisa mempercayai omonganku
''Cukup ras, kalau kamu tidak mau lagi jadi sahabat aku, nggak papa, jangan tuduh miranda yang tidak2'' kaget aku mendengarnya, serasa petir menyambar bendungan air mataku
''Maxwel...'' hingga meneteslah air bening dari ruang mataku, kemudian mereka pergi. Aku sungguh tidak menyangka maxwel sesombong itu, 18 tahun waktu yang kita lewati bersama, mengukir sebuah kata yang simple tapi penuh makna yang tersebut sebagai sahabat, sekejap semua itu hilang terhapus oleh cinta semu maxwel terhadap miranda, sungguh kecewa aku.
Entah apa lagi yang harus aku lakukan aku tidah tau,
Sejak kejadian itu maxwel sama sekali tidak menghiraukanku, mengacuhkanku dan tidak menganggapku sebagai sahabatnya, bahkan aku tanya kabarnya saja tidak ada jawaban, sebenci itu kah dia kepadaku hanya karena masalah sesepele itu?
3 hari berlalu tanpa maxwel, sedih, sepi dan rindu ku rasakan selama waktu itu, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku dan meninggalkan mata pelajaran kuliah selama aku ambil cuti tanpa sepengetahuan maxwel, mungkin dengan aku di kampung aku bisa melepas rinduku kepada maxwellewat tempat2 bermain kita dulu semasa di kampung.
Malam itu kegalauan menyapa hatiku, saat ku berkemas mempersiapkan untuk esok menuju kampung, sepi ku rasa, biasanya setiap kali kita pulang ke kampung pun selalu bersama
''Drrtt,, dddrrrttt,,,'' hp ku bergetar mengagetkanku, membuyarkan apa yg sedang ku fikirkan saat itu, pertanda ada satu panggilan masuk, setelah ku jawab, ternyata itu dari mas hadi, dia menyuruhku ke rumahnya, aku menyangka pasti dia akan membicarakan tentang maxwel.
Akupun segera bergegas menuju rumah mas hadi dan meninggalkan barang2 yang sedang ku kemas.
''ada apa mas hadi menyuruhku kesini'' tanyaku langsung padanya setelah sampi di rumahnya, kita duduk di teras depan yg terdapat kursi dan meja
kemudian terdengar suara bunyi motor ninja yang sepertinya itu motormas hadi, aku kaget mendengarnya, fikiranku langsung tertuju pada maxwel, perlahan-lahan suara itu semakib dekat dan semakin dekat, ternyata benar itu maxwel dengan motor gagah mas hadi yang ia pinjam, terkejutnya aku saat juga melihat miranda ikut bersamanya, maxwel sudah berani mengajak miranda kesini...:(
''Mas hadi,, saras'' sapanya setelah turun dari motor dan menghampiri aku dan mas hadi
''kaya nya mas hadi sedang sibuk, kalau begitu aku pulang dulu deh, bicranya lain kali aja yah'' aku bangkit dari kursi yang ku duduki berniat tuk pergi, karena aku tidak mau melihat mereka berdua
''saras... kenapa kamu 3 hari ini ga masuk kuliah? aku cari di kosan pun tidak mernah menemukanmu'' sudah hampir ku ayinkan kakiku tuk melangkah menjauhi mereka, maxwel mempertanyakan apa yang mesti iya tanyakan padaku, karena kepulanganku besok pun dia tidak tau
''Kamu,,,, miranda kan?'' belum sempat aku jawab pertantaan maxwel, mas hadi menyapa kedatangan miranda yang baru saja menghampiri kami, sepertinya mas hadi kenal dengan miranda
''Iya, maaf kamu siapa ya?'' tapi miranda berlaga tidak mengenal mas hadi
''aku hadi, kita pernah ketemu se kali di mall waktu itu kamu sedang bersama wira, kakak wira itu sahabat baik aku'' mas hadi menjelaskan jelasnya, ku lihat miranda kaget dan spontan menjadi tegang, maxwel hanya diam menatap miranda
''Maxwel, mau apa kita kesini? cari tempat lain aja yuk'' miranda merangkul lengan maxwel, mengacuhkan penjelasan mas hadi seakan ingin menghindar
''ko bisa sama maxwel sih? aku nggak tau loh kalian ternyata teman baik, oh iya maxwel, katanya ada yang mau kamu omongin sama aku dan saras? kamu mau ngomong apa?'' mas hadi meneruskan bicaranya, aku hanya diam seolah tidak ada di situ, aku takut salah ngomong lagi
''Oh iya mas, aku mau balikin motor mas, aku rasa aku lebih nyaman dengan si jaja'' dia menyebut motor vespanya dengan sebutan jaja, aku kaget di buatnya, ada apa dengan maxwel? dia berani lakukan semua itu di depan miranda?
''Hahhh??? maksud kamu?'' miranda penasaran
''ternyata aku bodoh, mengagumi orang seperti kamu sampe rela berbohong sejauh ini hanya untuk terlihat sempurna di mata kamu, akupun jadi sangat jauh dengan sahabatku, bahkan pernah membencinya hanya karna dia mengatakan sesuatu yang seharusnya dia katakan, sekarang aku sadar aku nggak bisa jauh dari saras, dari katamu bahwa saras sering mengancammu yg tidak2 untuk menyuruhmu menjauhiku, katamu saras sering berkata yang tidak baik tentang aku, terakhir karna kamu menyuruhku untuk membenci dan menjauhi saras, itu yang membuatku sadar bahwa kamu sedang bermain api di tengah2 antara aku dan saras, karna aku tau saras tidak mungkin tega menyakiti orang yg aku sayang, dia juga tidak mungkin membicarakan hal negatif tentang aku, malah dia yg selalu merubah sifat negatifku menjadi hal positif, dari situ aku tau, mata hatiku telah di tutupi oleh cinta palsumu itu,, aku menyesal, hampir saja aku kehilangn sahabatku hanya karna wanita murahan seperti kamu'' jelas maxwel panjang lebar, aku masih diam, aku mengerti sekarang kenapa maxwel begitu bencinya terhadapku, ternyata karna miranda yang menyebarkan berbagai macam fitnah tentangku terhadap maxwel, mas hadipun ikut diam, mungkin dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba.....
''Plaaakkk...'' telapak tangan miranda mengayun dan mendarat di pipi maxwel
''Miranda..'' tidak tanggung2 aku dorong miranda dari hadapan maxwel, emosiku langsung memuncak, mungkin karna dia sudah menampar sahabatku, juga karna dia sudah menjelek-jelekanku di depan maxwel dan berusaha menghancurkan persahabatan kita
''Gila kalian semua'' dia memakiku, juga kita
''kamu yang gila..'' ku balik memakinya, kemudian maxwel menarik tanganku memposisikanku di belakangnya
''Maafkan aku, aku antarkan kamu pulang'' maxwel sambil menyerahkannya helm vespanya yang sudah di persiapkan mas hadi untuk di kembalikan kepada maxwel
''Nggak sudi naik motor butut kaya gitu'' jawabnya sombong dan kemudian pergi entah kemana arahnya dan dengan siapa dia pergi, maxwel membiarkannya pergi.
''Apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya?'' mas hadi masih penasaran
''tidak apa-apa lah mas, intinya aku mengucapkan banyak terimakasih sama mas, terimakasih buat motornya yang membantu aku jadi jahat, dan terimakasih juga atas informasi tentang siapa sebenarnya miranda yang membuat aku menyesali kejahatanku'' begitu kata maxwel. Ku lihat mas hadi hanya garuk-garuk kepanya, ku rasa dia masih belum mengerti dengan penjelasan maxwel
''ras,, denger dari temen2 di kampus katanya kamu ambil izin off selama 2 minggu? kok kamu nggak cerita sama aku sih?'' maxwel bertingkah laku seakan tidak terjadi apa-apa
''kamu seneng itu lebih penting'' aku hanya jawab apa adanya
''maafkan aku ras, aku sadar aku salah, dari kesalahanku itu akan aku anggap sebagai pelajaran buat aku bahwa makna persahabatan itu lebih penting dan berharga di bandingkan yang lainnya, tolong maafkan aku, aku nggak bisa lalui hari demi hari tanpa ada kamu'' serasa maxwel yang dulu kembali lagi, senang rasanya hatiku
''tidak ada maaf bagimu...'' sebenarnya aku hanya berjcanda, tapi mendengarnya maxwel langsung memelototiku, tegang wajahnya, aku tau apa yang dia fikirkan saat itu
''ah ya udah sih,, nggak usah sekaget itu kali, aku maafin kamu kok, sering2 aja kaya gitu biar aku buang kamu ke laut sekalian'' aku bercanda
''Hahahahaha'' tawa kembali hadir di antara kita, akhirnya maxwel sahabatku yang sebenarnya kembali tuk lewati hari bersama-sama dengan warna warni hiasan dunia.
Esok harinya maxwel pun ikut pulang ke kampung bersamaku, disana kita mengulang kembali nostalgia selama TK, SMP, dan SMA yang selalu bersama dan tanpa adanya miranda atau siapapun yang menghalangi kita tuk memperjuangkan sebuah arti persahabatan.
Sahabat itu seperti tubuh, yang jika terluka di salah satu bagiannya mulut bisa teriak karna sakit, mata bisa menangis dan tangan bisa mengobati...
Sahabat juga seperti lilin di tengah kegelapan, meskipun ia sakit dan lama2 hancur karna terbakar, itu tidak menjadi masalah asalkan mampu menghadirkan cahaya sebagai penerang di kegelapan itu.
Aku sayang sahabatku....
:-)
Selesai


