Translate

Minggu, 07 September 2014

Lying to be perfect


                                 ''Denger si dia jomblo lagi tuh rasanya kaya membelah atmosfir berlapis-lapis, meluncur bersama paus akrobatis menuju rasi bintang paaaling manis'' begitu kata maxwel sepertinya sambil berandai-andai, padahal dia baru saja tiba di kosanku, bisa ketebak sih kalau dia seperti itu pasti lagi seneng
''hhmm.. cofee god day itu mah'' aku asal tebak hanya bercanda
''aku serius ras, hari ini aku lagi seneng banget'' akhirnya maxwel mengakuinya
''kenapa sih? lagi naksir cewe ya kamu? siapa yang lagi jomblo?'' aku ingin tahu, kemudian maxwel mengambil HP di sakunya
''lihat deh..'' dia sambil menyodorkan HPnya memperlihatkan apa yang menyebabkan dia sebahagia saat itu. Dari kolom beranda facebook tertulis ''jomblo, sepi banget..'' 13 minutes ago, seperti itu status terbaru dari miranda, perempuan yang sangat maxwel kagumi, melihat sikap maxwel seperti itu sejujurnya aku kecewa, ternyata dia masih saja menginginkan untuk menjadi kekasih miranda, padahal dia sendiri tahu sikap dan sifat miranda kaya apa, yang salah satunya seperti pulang pergi dari rumahnya ke kampus sudah ada yang mengantar dan menjemput bukan satu atau dua orang, tapi berbeda-beda dengan membawa motor dan mobil mewah, bagaimana dengan maxwel yang kuper, kutu buku dan hanya berkendara vespa yang ia bawa dari kampung, di fikir secara logika sudah jelas pasti miranda menolaknya, sebagai sahabat baiknya sejak dari TK, aku tidak tega dengannya jika itu benar2 terjadi.
''terus kamu mau menyatakan cinta kamu kepada miranda dan memintanya untuk menjadi pacar kamu gitu?'' dalam hatiku berharap maxwel menjawab tidak
''mmm...'' nampaknya dia ragu, atau malu mengatakannya padaku
''maxwel... apa kamu serius? kamu kayak nggak tau miranda aja.'' aku mencoba menyadarkan hati maxwel dari serangan panah asmara miranda
''tapi mestinya kamupun tahu bahwa aku sudah lama mengagumi miranda'' dia mewakili perasaan cintanya terhadap miranda. 
Dari jawabannya yang seperti itu aku tidak lagi bisa berkata apa.
                  Keesokan harinya saat kita hendak pulang selesai kuliah hari itu, sikap maxwel sudah berbeda dari biasanya, dia keluar dari kelas saja tidak menghiraukan aku
''miranda..'' aku mendengar maxwel memanggil miranda, di depan gerbang kampus dari jauh ku lihat nampaknya miranda sama sekali tidak menghiraukan maxwel, hanya nengok sekilas
''maxwel..'' aku memanggilnya dari arah belakangnya, maksudku agar maxwel tidak lagi memperhatikan miranda, tapi yang terjadi malah sebaliknya dari harapanku, maxwel malah mendekati miranda yang sedang tengak tengok kanan kiri seperti sedang menunggu seseorang, hhmm,, ya sudahlah, ku biarkan saja dulu
''sendirian aja..'' terdengar dari jarak kurang lebih 1 meter dari maxwel dan miranda
''nggak, aku berdua'' miranda jawab, tapi matanya tidak terjutu kepada maxwel yang kemudian melambaikan tangannya kepada seorang laki-laki yang baru saja datang dengan motor kawasaki ninja berwarna birunya itu. melihat raut wajah maxwel yang tadinya ceria, kini spontan menjadi kecewa karna kejadian itu
''Lihat,, apa kamu yakin ingin menjadi kekasih miranda?'' Aku kemudian mendekatinya
''aku akan tetap mencoba tuk berusaha demi cinta miranda, ya... semangat!!!'' dia mulai lebay, dengan gayanya yang mengepalkan tangannya dan bergaya seperti mendiyang presiden pertama RI bapak soekarno
''wel, hari ini kita ke panti yuk'' itu kebiasaan aku dan maxwell di setiap harinya, sangat akrab dengan anak-anak panti asuhan
''mmm... kayanya hari ini aku nggak bisa deh'' ku rasa dia gugup
''kenapa..?'' jelas aku ingin tahu alasan jelasnya
''mmm... itu,,, mmm... mau nyelesain skripsi, iya..'' aku rasa ada yang aneh dari sikap maxwel saat itu, ku rasa itu hanya omong kosong untuk alasan saja, tapi kenapa maxwel begitu?
''oh,, ya udah, kalau gitu aku aja yang ke panti sendirian'' aku tidak mau banyak omong, mungkin alasan maxwel benar. Dan kita pun pulang ke tempat kos masing-masing.
Hari itu saat tiba di kos, ada niat baik di hatiku untuk membantu maxwel menyelesaikan skripsinya yang ia bilang, tadinya aku ingin ke panti, tapi ku rasa sahabatku sedang di landa kesibukan, untuk ke panti bisa saja di tunda besok atau lusa pergi bersama-sama maxwel
''tok,, tok,, tok,,'' ku ketuk pintu tiga kali begitu sampai di kosan maxwel, diapun membuka pintunya dan menemuiku di luar
''maxwel...???'' aku terkejut melihatnya, melihat penampilannya yang 100% berubah, dari gaya rambutnya, pakaiannya, sampai kacamata kupernya pun berbeda dari sebelumnya, berasa mimpi, ada apa dengan maxwel
''saras,, ternyata kamu..'' sammbutnya
''kamu lagi kenapa sih wel? kamu mau kemana? keren banget...'' aku masih tidak percaya, memutari maxwel berusaha mencari jawaban
''aku mau ke rumah miranda, pengen mengajaknya nge-date'' dia sambil senyum2 sendiri. Ternyata itu alasannya, sama sekali tidak terfikir olehku
''haahh?? kamu yakin? pake vespa kamu itu?'' aku
''iyalah..'' jawabnya singkat, namun penuh keyakinan
''tapi bukannya kamu bilang mau nyelesaiin skripsi??'' aku percaya aja, karena selama aku sahabatan dengan maxwel dari TK dia tidak pernah berbohong
''mmm,,, udahlah, kamu sendiri bukannya kamu bilang mau ke panti? (diam sejenak) ya udahlah, kamu pulang gih, aku udah mau jalan'' apa dia mengusirku? sedikit rasa kecewa menjelma dalam rasaku, dan kemudian dia pergi mendahuluiku yang masih berdiri di depan pintu kosannya. ya sudahlah,, sebagai sahabat yang baik aku akan selalu mendukung, maxwel senang, akupun ikut senang.
                        Hingga malam tiba ku hanya di rumah, sendiri kesepian, nonton TV sendiri, tidak seperti biasanya selalu ada maxwel, belum juga dia menjadi kekasih miranda saja aku sudah merasa kehilangan, apa mungkin jika mereka sudah menjadi sepasang kekasih, maxwel akan melupakan aku dan persahabatan kita?
''saras...'' terdengar seperti suara maxwel memanggilku dari luar, dan aku segera bergegas tuk menemuinya
''maxwel... aku kira kamu udah lagi nge-date sama miranda'' tebak ku menyambut kedatangan maxwel dan duduk di sebelahnya yang duduk di teras depan
''kamu bisa nggak bantu aku?'' dengan tampangnya yang melas
''kenapa?'' padahal aku sudah tahu tentang apa yang akan dia katakan pasti tidak jauh berkaitan dengan miranda
''bisa nggak cariin aku pinjaman motor kawasaki yang lagi ngetrend sekarang'' apa lagi itu?? yang ku rasakan itu bukanlah sifat maxwel
''haahh?? untuk apa wel?'' jelas aku kaget, karena pintanya saat itu mulai aneh
''pleaseee,,, sehari aja..'' dia memohon padaku, tapi tidak menjelaskan alasannya
''kamu jangan gila dong, kok bisa sih kamu senekat ini hanya karena bisa nge-date ama miranda iya?'' aku kecewa
''please ras, sehari aja, please bantuin aku, kamu kan sahabatku yang paling baik, yah,, yah,, yah??'' dia tidak menyerah merayuku, aku jadi tidak tega, bukan karna maxwel memuja muji ku, hanya karena aku ingin menjadi yang terbaik dan bisa melihat sahabatku senang
''ya udah,, aku akan coba pinjam ke mas hadi, adik ibu ratih, boleh atau nggaknya, besok sebelum berangkat kuliah kamu kesini'' ibu ratih adalah ibu kos ku
''serius?? makasih ras, kamu memang sahabatku yang paling baik..'' maxwel sangat gembira, dia memelukku dan kembali pulang setelahnya.
Setelah dia pulang, aku mendatangi rumah bu ratih untuk menemui mas hadi bermaksud untuk membicarakan permintaan maxwel tadi, untungnya bu ratih dan keluarganya adalah keluarga yang budiman dan suka menolong, begitupun mas hadi yang juga adik kandung bu ratih, alhasil aku mendapatkan apa yang maxwel inginkan, mas hadi membolehkan dan meminjamkan motornya padaku, meski ragu ku lakukan itu semua, tapi aku akan berusaha bahagia karena dengan itu maxwel pun bahagia.
Sampailah waktu membawa di esok hari...
Ku lihat kedatangan maxwel pagi-pagi sekali menghampiri, penampilannya yang gagah dan tambah membuatku merasa asing, jujur aku lebih suka maxwel yang dulu, yang kuper, culun, dan setia dengan vespanya tanpa memikirkan untuk mengganti kendaraanya dengan kawasaki ninja motor berkelas waktu itu
''gimana ras? apa boleh?'' masih dia bertanya padahal sudah melihat motornya di depan matanya sendiri
''apa kamu nggak melihatnnya?'' entah kenapa aku jadi kesal dengan sikapnya
''saras sahabatku yang paling baik yang paling aku sayangi, makasih banyak...'' dan lagi dia memelukku, dan aku tersenyum dalam peluknya, entah itu senyum bahagia atau kecewa.
Dengan suasana hati yang bahagia akhirnya maxwel meluncur ke kampus dengan menggunakan motor besar berkelas itu, tersirat di hatiku rasa bahagia dan kecewa, bahagia melihat maxwel bahagia, tapi kecewa melihatnya seperti itu. Aku rasa semenjak dia tau tentang miranda jomblo, kita menjadi jauh, aku sendiri sangat merindukan maxwel sahabatku yang sebenarnya, beberapa hari itu juga kita sendiri sendiri berangkat ke kampus, termasuk di hari itu.Saat tiba aku di kampus benar2 kaget setengah mati melihat miranda dan maxwel berduaan di halaman kampus ku rasa karna maxwel berkendara ninja deh, mereka terlihat akrab sekali, apalagi dengan senyum dan rayuan manja miranda terhadap maxwel, entah kenapa hatiku perih saat melihat semua itu, padahal harusnya aku senang bisa membantu maxwel hingga akhirnya dia bisa sedekat itu dengan miranda, dia sudah benar2 merebut maxwel dariku. Dan ku biarkan semua itu berlalu.
                 Malam yang dingin malam itu aku hanya sendiri lagi, tanpa maxwel lagi, dan ingin di kesendirianku ku habiskan waktu santaiku di cafe langgananku dan maxwel, meski tanpa maxwel ku tetap menikmati secangkir kopi yang menemaniku malam itu, tapi tanpa sengaja aku melihat miranda duduk berdua bersama seorang pemuda yang sepertinya itu maxwel, apa mungkin mereka sudah pacaran?, melihat mereka berdua aku jadi ingin meninggalkan tempat itu, sedih rasanya melihat maxwel melupakanku, dan akupun keluar dari cafe hendak kembali pulang, kemudian HPku berbunyi tanda ada satu panggilan masuk, setelah ku lihat ternyata itu dari maxwel, ''lagi pacaran masih sempat2nya telpon aku'' begitu fikirku
''saras kamu di mana? aku di kosanmu sekarang'' kata maxwel begitu aku menerima panggilan telepon darinya
''haah? bukannya kamu sedang nge-date sama miranda?'' karna baru saja aku melihat miranda dengan seorang laki-laki
''nggak, cepat pulang aku mau balikin motor mas hadi'' jawabnya, aku jadi bertanya-tanya sendiri, jika maxwel tidak disini terus yang bersama miranda tadi siapa? ternyata tanyaku langsung mendapat jawaban, tiba2 miranda dan laki2 itu lewat di depanku, mereka terlihat sangat mesra, sekilas mirandapun melihatku, aku jadi bingung di buatnya, apa maxwel dan miranda belum jadi sepasang kekasih?. Tanpa menjawab pertanyaan dari maxwel aku mematikan telepon dan langsung pulang untuk menemui maxwel yang sedang menungguku
''Kamu kemana aja sih?'' Melihatku berjalan menghampirinya, ttidak jauh letak cafe itu dari kosanku
''Wel, kamu sama miranda gimana sih?'' Aku ingin tau sebenarnya
''Gimana apanya? Aku sama miranda baik2 saja ko'' hanya itu jawabannya, seakan tiada lagi kata yang ia ingin curahkan padaku seperti biasanya
''Kalian pacaran..?'' Aku langsung menanyakan inti dari permasalahannya
''Mmmm,,, kasih tau nggak yeah...?(diam sejenak bergaya mikir) yeah,,, aku sama miranda sudah jadian...'' sambil teriak dia jawabnya. 
''Secepat itu???'' Aku kaget mendengarnya, berati yang aku takutkan sudah terjadi, miranda hanya mempermainkan cinta maxwel, tapi harus bagaimana aku membicarakan apa yang aku lihat tadi kepada maxwel? Mengingat maxwel sangat mengagumi miranda sampai nekat berbohong demi terlihat sempurna di mata miranda, aku takut dia patah hati. Aku diam memikirkan hal itu
''Antarkan aku ke tempat mas hadi, aku ingin meminjam lagi motornya, kira2 boleh nggak ya..?'' Ujar maxwel
''Untuk apa lagi wel?'' Padahal sudah bisa aku menebak alasannya
''Besok miranda memintaku mengantarkannya ke salon, masa aku harus pake vespa sih nganterin pacarku yang cantik ke salon?'' Bahkan dia melupakan vespa kesayangannya itu, maxwel benar2 seperti di hipnotis oleh miranda
''Wel, ada satu hal yang ingin aku bicarakan sama kamu'' ku fikir sebelum maxwel melangkah lebih jauh, aku harus memberitahunya tentang siapa miranda
''Udahlah ngomongnya nanti aja, sekarang antarkan aku dulu, yh.. yah..?'' Tapi dia tidak mau tau
''Tapi wel..'' melihat raut wajah maxwel lagi aku tidak ada keberanian untuk mengatakannya, padahal dia sudah siap untuk mendengarkan ceritaku
''kenapa? cepat ngomong'' katanya. Tapi aku malah diam, aku takut menyakiti hati maxwel
''Ya udahlah lain kali aja ngomongnya,sekarang anterin aku yuk'' dia masih merayuku. Akhirnya aku turuti pintanya, masalah apa yang aku lihat tadi, biarlah menjadi rahasiaku dulu, lagian belum tentu itu adalah pacarnya miranda.
''Mas hadi, kebetulan mas ada di rumah, maxwel mas, sahabatku yang kemaren minjam motor mas'' rumah bu ratih tidak jauh dari kosanku, hanya dengan jalan kaki kurang lebih 5 menit aja sudah sampai, aku memperkenalkan maxwel saat tiba dan bertemu mas hadi, karna sebelumnya mereka belum pernah mengenal
''Senang bisa ketemu mas..'' mereka berjabat tangan saling memperkenlkan diri
''Udah nih pinjam motornya'' mas hadi memulai percakapan, aku jadi tidak enak hati padanya, mungkin juga dengan maxwel..
''Mmm,,, justru aku ingin membicarakan itu pada mas hadi'' maxwel tegang sekali
''Boleh nggak aku sewa motornya mas, maaf sebelumnya sudah merepotkan mas hadi, tapi aku sangat membutuhkannya mas, untuk bayarannya mas minta berapa aku coba sanggupi + motorku sebagai jaminannya'' akhirnya maxwel lanjut bicara 
''Maxwel..?'' aku kaget dengan permintaannya itu, benar2 di luar bayanganku
''Memangnya kamu butuh berapa hari?'' mas hadi meladeni maxwel
''Kurang tau sih mas, tapi aku bisa mastiin kurang dari satu minggu kok'' jelas maxwel
''Maxwel,, kamu tidak perlu senekat itu'' aku hanya care sama sahabatku
''Oh, ya sudah nggak papa jika untuk 3-4 hari'' jawab mas hadi lagi, bersedia
''Serius mas??, oh makasih banyak mas hadi'' terlihat senang di muka maxwel, dan aku tidak di anggap.
               Keinginan maxwel sudah hampir terpenuhi, dengan begitu miranda lebih bisa membohongi maxwel, pagi itu aku berangkat ke kampus berdua dengan maxwel, senang bisa lagi bersama sahabatku, tapi setelah bertemu miranda aku di lupakan begitu saja.
''pagi cintaku...'' sapa miranda pada maxwel sambil merangkulnya
''Pagi miranda..'' jawab maxwel, dan aku mulai di acuhkan
''Miranda, semalam kamu sama siapa?'' aku coba2 tanya untuk jelasnya
''Aku?? aku,, aku di rumah tidak kemana-mana'' jelas sekali dia berbohong, dia juga gugup menjawab
''Kamu yakin?'' kata ku
''Kamu kenapa ras?'' Tanya maxwel mungkin penasaran
''Mmm,, cinta,, katanya kamu mau anterin aku ke salon hari ini?'' Miranda mendahuluiku berkata
''Iya, kamu jam berapa maunta?'' Maxwel kembali meladeni miranda
''Maxwel...'' marah hatiku melihat maxwel di perlakukan seperti itu oleh miranda
''Kamu kenapa sih saras'' maxwel sendiri bingung atas sikapku
''Aku nggak suka kamu pacaran sama miranda'' gemetaran sebenarnya kakiku akibat mengatakannya, tapi emosiku sudah tidak bisa lagi ku tahan
''Saras..'' maxwel kaget, memelototiku
''Miranda tidak tulus mencintai kamu wel, dia ada orang lain selain kamu'' akhirnya ku katakan semuanya
''Saras... apa maksud kamu bicara seperti itu?'' tapi maxwel terlihat sangat marah
''Wel aku serius, tadi malam aku melihat miranda sama laki2, tadinya aku kira itu kamu, tapi setelah kamu menelponku dan bilang kalau kamu ada di kosanku aku tau yang bersama miranda itu bukan kamu'' aku mencoba menjelaskan
''Saras,, apa salah aku sama kamu sampe kamu memfitnah aku seperti itu'' miranda memutar balikkan fakta, seolah aku yg berada di letak kesalahannya
''Nggak wel, aku nggak bohongin kamu, miranda yg bohong wel, percayalah sama aku'' aku tidak mempedulikan miranda, yg terpenting maxwel bisa mempercayai omonganku
''Cukup ras, kalau kamu tidak mau lagi jadi sahabat aku, nggak papa, jangan tuduh miranda yang tidak2'' kaget aku mendengarnya, serasa petir menyambar bendungan air mataku
''Maxwel...'' hingga meneteslah air bening dari ruang mataku, kemudian mereka pergi. Aku sungguh tidak menyangka maxwel sesombong itu, 18 tahun waktu yang kita lewati bersama, mengukir sebuah kata yang simple tapi penuh makna yang tersebut sebagai sahabat, sekejap semua itu hilang terhapus oleh cinta semu maxwel terhadap miranda, sungguh kecewa aku.
Entah apa lagi yang harus aku lakukan aku tidah tau,
Sejak kejadian itu maxwel sama sekali tidak menghiraukanku, mengacuhkanku dan tidak menganggapku sebagai sahabatnya,  bahkan aku tanya kabarnya saja tidak ada jawaban, sebenci itu kah dia kepadaku hanya karena masalah sesepele itu?
                   3 hari berlalu tanpa maxwel, sedih, sepi dan rindu ku rasakan selama waktu itu, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, sampai akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kampung halamanku dan meninggalkan mata pelajaran kuliah selama aku ambil cuti tanpa sepengetahuan maxwel, mungkin dengan aku di kampung aku bisa melepas rinduku kepada maxwellewat tempat2 bermain kita dulu semasa di kampung.
Malam itu kegalauan menyapa hatiku, saat ku berkemas mempersiapkan untuk esok menuju kampung, sepi ku rasa, biasanya setiap kali kita pulang ke kampung pun selalu bersama
''Drrtt,, dddrrrttt,,,'' hp ku bergetar mengagetkanku, membuyarkan apa yg sedang ku fikirkan saat itu, pertanda ada satu panggilan masuk, setelah ku jawab, ternyata itu dari mas hadi, dia menyuruhku ke rumahnya, aku menyangka pasti dia akan membicarakan tentang maxwel.
Akupun segera bergegas menuju rumah mas hadi dan meninggalkan barang2 yang sedang ku kemas.
''ada apa mas hadi menyuruhku kesini'' tanyaku langsung padanya setelah sampi di rumahnya, kita duduk di teras depan yg terdapat kursi dan meja
kemudian terdengar suara bunyi motor ninja yang sepertinya itu motormas hadi, aku kaget mendengarnya, fikiranku langsung tertuju pada maxwel, perlahan-lahan suara itu semakib dekat dan semakin dekat, ternyata benar itu maxwel dengan motor gagah mas hadi yang ia pinjam, terkejutnya aku saat juga melihat miranda ikut bersamanya, maxwel sudah berani mengajak miranda kesini...:(
''Mas hadi,, saras'' sapanya setelah turun dari motor dan menghampiri aku dan mas hadi
''kaya nya mas hadi sedang sibuk, kalau begitu aku pulang dulu deh, bicranya lain kali aja yah'' aku bangkit dari kursi yang ku duduki berniat tuk pergi, karena aku tidak mau melihat mereka berdua
''saras... kenapa kamu 3 hari ini ga masuk kuliah? aku cari di kosan pun tidak mernah menemukanmu'' sudah hampir ku ayinkan kakiku tuk melangkah menjauhi mereka, maxwel mempertanyakan apa yang mesti iya tanyakan padaku, karena kepulanganku besok pun dia tidak tau
''Kamu,,,, miranda kan?'' belum sempat aku jawab pertantaan maxwel, mas hadi menyapa kedatangan miranda yang baru saja menghampiri kami, sepertinya mas hadi kenal dengan miranda
''Iya, maaf kamu siapa ya?'' tapi miranda berlaga tidak mengenal mas hadi
''aku hadi, kita pernah ketemu se kali di mall waktu itu kamu sedang bersama wira, kakak wira itu sahabat baik aku'' mas hadi menjelaskan jelasnya, ku lihat miranda kaget dan spontan menjadi tegang, maxwel hanya diam menatap miranda
''Maxwel, mau apa kita kesini? cari tempat lain aja yuk'' miranda merangkul lengan maxwel, mengacuhkan penjelasan mas hadi seakan ingin menghindar
''ko bisa sama maxwel sih? aku nggak tau loh kalian ternyata teman baik, oh iya maxwel, katanya ada yang mau kamu omongin sama aku dan saras? kamu mau ngomong apa?'' mas hadi meneruskan bicaranya, aku hanya diam seolah tidak ada di situ, aku takut salah ngomong lagi
''Oh iya mas, aku mau balikin motor mas, aku rasa aku lebih nyaman dengan si jaja'' dia menyebut motor vespanya dengan sebutan jaja, aku kaget di buatnya, ada apa dengan maxwel? dia berani lakukan semua itu di depan miranda?
''Hahhh??? maksud kamu?'' miranda penasaran
''ternyata aku bodoh, mengagumi orang seperti kamu sampe rela berbohong sejauh ini hanya untuk terlihat sempurna di mata kamu, akupun jadi sangat jauh dengan sahabatku, bahkan pernah membencinya hanya karna dia mengatakan sesuatu yang seharusnya dia katakan, sekarang aku sadar aku nggak bisa jauh dari saras, dari katamu bahwa saras sering mengancammu yg tidak2 untuk menyuruhmu menjauhiku, katamu saras  sering berkata yang tidak baik tentang aku, terakhir karna kamu menyuruhku untuk membenci dan menjauhi saras, itu yang membuatku sadar bahwa kamu sedang bermain api di tengah2 antara aku dan saras, karna aku tau saras tidak mungkin tega menyakiti orang yg aku sayang, dia juga tidak mungkin membicarakan hal negatif tentang aku, malah dia yg selalu merubah sifat negatifku menjadi hal positif, dari situ aku tau, mata hatiku telah di tutupi oleh cinta palsumu itu,, aku menyesal, hampir saja aku kehilangn sahabatku hanya karna wanita murahan seperti kamu'' jelas maxwel panjang lebar, aku masih diam, aku mengerti sekarang kenapa maxwel begitu bencinya terhadapku, ternyata karna miranda yang menyebarkan berbagai macam fitnah tentangku terhadap maxwel, mas hadipun ikut diam, mungkin dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi, tiba-tiba.....
''Plaaakkk...'' telapak tangan miranda mengayun dan mendarat di pipi maxwel
''Miranda..'' tidak tanggung2 aku dorong miranda dari hadapan maxwel, emosiku langsung memuncak, mungkin karna dia sudah menampar sahabatku, juga karna dia sudah menjelek-jelekanku di depan maxwel dan berusaha menghancurkan persahabatan kita
''Gila kalian semua'' dia memakiku, juga kita
''kamu yang gila..'' ku balik memakinya, kemudian maxwel menarik tanganku memposisikanku di belakangnya
''Maafkan aku, aku antarkan kamu pulang'' maxwel sambil menyerahkannya helm vespanya yang sudah di persiapkan mas hadi untuk di kembalikan kepada maxwel
''Nggak sudi naik motor butut kaya gitu'' jawabnya sombong dan kemudian pergi entah kemana arahnya dan dengan siapa dia pergi, maxwel membiarkannya pergi.
''Apa yang terjadi dengan kalian sebenarnya?'' mas hadi masih penasaran
''tidak apa-apa lah mas, intinya aku mengucapkan banyak terimakasih sama mas, terimakasih buat motornya yang membantu aku jadi jahat, dan terimakasih juga atas informasi tentang siapa sebenarnya miranda yang membuat aku menyesali kejahatanku'' begitu kata maxwel. Ku lihat mas hadi hanya garuk-garuk kepanya, ku rasa dia masih belum mengerti dengan penjelasan maxwel
''ras,, denger dari temen2 di kampus katanya kamu ambil izin off selama 2 minggu? kok kamu nggak cerita sama aku sih?'' maxwel bertingkah laku seakan tidak terjadi apa-apa
''kamu seneng itu lebih penting'' aku hanya jawab apa adanya
''maafkan aku ras, aku sadar aku salah, dari kesalahanku itu akan aku anggap sebagai pelajaran buat aku bahwa makna persahabatan itu lebih penting dan berharga di bandingkan yang lainnya, tolong maafkan aku, aku nggak bisa lalui hari demi hari tanpa ada kamu'' serasa maxwel yang dulu kembali lagi, senang rasanya hatiku
''tidak ada maaf bagimu...'' sebenarnya aku hanya berjcanda, tapi mendengarnya maxwel langsung memelototiku, tegang wajahnya, aku tau apa yang dia fikirkan saat itu
''ah ya udah sih,, nggak usah sekaget itu kali, aku maafin kamu kok, sering2 aja kaya gitu biar aku buang kamu ke laut sekalian'' aku bercanda
''Hahahahaha'' tawa kembali hadir di antara kita, akhirnya maxwel sahabatku yang sebenarnya kembali tuk lewati hari bersama-sama dengan warna warni hiasan dunia.
Esok harinya maxwel pun ikut pulang ke kampung bersamaku, disana kita mengulang kembali nostalgia selama TK, SMP, dan SMA yang selalu bersama dan tanpa adanya miranda atau siapapun yang menghalangi kita tuk memperjuangkan sebuah arti persahabatan.
Sahabat itu seperti tubuh, yang jika terluka di salah satu bagiannya mulut bisa teriak karna sakit, mata bisa menangis dan tangan bisa mengobati...
Sahabat juga seperti lilin di tengah kegelapan, meskipun ia sakit dan lama2 hancur karna terbakar, itu tidak menjadi masalah asalkan mampu menghadirkan cahaya sebagai penerang di kegelapan itu.
Aku sayang sahabatku....

 :-)                    

                 Selesai

Senin, 01 September 2014

Sholatlah sebelum di sholatkan

         ''Aku tunggu 10 menit dari sekarang, jangan lama2 anisa'' romi mengaturku saat aku turun dari motornya dan masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Saat itu aku tidak melihat bu de yang lagi duduk di ruang tv sebelah kamarku, aku langsung berlari kekamar melepas kerudung berwarna putih yang menutupi aurat di kepalaku kemudian mengganti seragam sekolahku dengan baju bermain.
''Anisa,, kamu sudah pulang ndok.., kok tidak mengucapkan salam? Bu de menghampiriku di kamar.
''Maaf bu de aku tidak melihat bu de tadi'' aku menjawab sambil menyisir rambutku dengan tatanan rapi
''Aduh aduh,, cantik sekali keponakan bude, sama seperti almarhummah ibu kamu dulu'' bu de membelai rambut panjang lurusku yang sudah tertata rapi
''tittt,, titt,,'' suara rizki mengklakson motornya
''Itu teman2 kamu? Kenapa tidak di suruh masuk?'' Tanya bu de
''nggak usah bu de, aku mau pergi lagi sama mereka'' jawabku kemudian pergi
''Eh, eh, tunggu dulu, sholat dzuhur dulu ndok...'' bu de bicara denganku yang sudah keluar kamar
''tidak ada waktu bu de, nanti sehabis pulang main sama mereka aja sholatnya'' aku menjawab dengan nada suara keras karena sudah berjalan keluar dari rumah dan hampir mendekati romi,rizki dan citra,
''Pulang jangan kesorean anisa'' pesan bu de juga dengan teriak karna sudah tak melihatku di hadapannya lagi, setelah itu aku tidak lagi bercakapan dengan bu de.
              Di jalan kita ngobrol bersama pasangan satu motor masing2, aku dengan romi, dan citra dengan rizki hingga setengah jam perjalan serasa seperti 5 menit sampailah kita di tempat tujuan, di pantai terdekat dari desa tempat tinggal kami,, sebenarnya kedatangan kita ke pantai bukan untuk apa-apa, bukan untuk tugas sekolah, atau untuk kepentingan lainnya, melainkan hanya untuk senang2 saja, lari kesana kemari, guyur2an air pantai, bermain pasir dan ombak, hanya itu saja membuat waktu rasanya sangat cepat berlalu, aku rasa baru saja kita sampai, namun hari sudah mulai gelap, waktu menunjukkan pukul 6 sore, awalnya karena terlalu asik bermain aku pun melupakan amanat dari bu de agar aku tidak pulang terlalu malam.
''Gawat,,, udah jam 6 ternyata, kita pulang yuk, bu de pasti nyariin aku'' aku mengajak mereka pulang dan merasa bersalah sama bu de, sudah melanggar amanatnya
''Waktu cepat banget yah berlalu, padahal lagi asik main'' keluh rizki
''Aduh bagaimana ini? Dzuhur aku nggak sholat, ashar juga nggak, sekarang udah maghrib kita sholat dulu yuk, bu de pasti marah kalau tahu aku tidak sholat'' aku karena takut bu de marah.
''Nanti ajalah sholatnya sampai rumah, sekarang kita pulang dulu, dari pada kamu di marahin sama bu de kamu'' usul citra
''Tapi kalau bu de marah gara2 aku nggak sholat bagaimana?'' Aku masih kebingungan
''Aduh anisa,, repot banget sih, kan masih bisa di qhodo' sholatnya, lagian kita masih muda, masih banyak waktu untuk sholat'' ujar rizki.Jujur aku kaget rizki ngomong seperti itu dan hendak menjawabnya tapi keburu romi bicara
''Udahlah ayo pulang'' kata romi sambil memakai helm motornya
''Tapi bu de bilang kalau maghrib seperti ini tidak boleh keluyuran atau berkendara ke jalanan, tunggu sampai berhenti adzan'' aku sedikit takut
''Ah udah lah terserah kamu aja, mau pulang apa nggak'' rizki sepertinya kesal terhadapku, dia mulai menyalakan mesin motornya
''udah kamu jangan berfikir yang aneh2, kita pasti bisa selamat sampe rumah kok, ayo pulang'' citra menarik tanganku menyuruhku naik ke motor romi yang juga sudah di nyalakan. Tidak ada pilihan lain, berdo'a dan yakin sajalah bahwa Allah akan melindungi kita ber 4.
                Akhirnya motor melaju, , romi melajukannya dengan kecepatan yang belum pernah aku alami selama naik motor
''Rom, kurangi kecepatannya dong, pelan2 aja'' aku merasa takut karena jalan pun sudah remang2, sudah mulai gelap
''Kamu tenang aja, biar cepat sampai rumah, daripada kamu di marahin bu de kamu'' jawab romi. Aku diam, tidak bisa lagi berpendapat apa2, tanganku semakin erat menggenggam pinggang romi karena takut akan kecepatan yang dia tempuh. Begitupun dengan rizki, melajukan motornya sangat kencang dan kencang lagi, yang tadinya berada di belakang kita dia berusaha menambah kecepatannya untuk mendahului kita.
Naas, tanpa sepengetahuan rizki sendiri terdapan mobil truk pengangkut pasir dari arah depan kita yang juga melaju sangat kencang melebihi kecepatan mengendara kita, terlanjur dia sudah berada di sebelah motor romi dia pun tidak tau apa yang harus dia perbuat, mengerem sudah terlanjur, melanjutkan pun malah tambah hancur, hingga akhirnya dia kehilangan keseimbangan, motornya menyerempet motor romi yang aku dan romi kendarai dan.....
''Braaakkk....'' tepat di muka mobil
''Tidaaakkk...'' aku terkejut yang melihat kejadiannya secara langsung, motornya hancur lebur benatakan, rizki dan citra terdampar entah kemana, ku lihat romi pun sudah tergeletak di depanku, setelah itu aku tidak tau apa lagi yang terjadi.
Sampai esok hari dengan kain perban menggulung di kepalaku, luka bakar tedapat di seluruh tubuhku, dengan menggunakan kursi roda bu de mendorongku hingga ku temui citra dan rizki yang berbaring tertutup kain putih, bahkan aku tidak mengenali mereka, kepala mereka hancur berantakan seperti bukan lagi kepala.
           Atas kejadian itu semua aku menangis sejadi-jadinya, melanggar amanat bu de untuk tetap mengenakan jilbab sebagai wanita muslimah dan tetap melaksanakan sholat dimanapun dan kapan pun, kemarin aku, romi, citra dan rizki baik2 saja, masih bisa melihat, berjalan juga sekolah, hari ini harus aku percayai bahwa kedua sahabatku itu sudah berpulang ke tempat asal kita di umur yang sangat muda. aku ingat, bu de pernah bilang bahwa jilbab akan menjadi pelindungi kita dimanapun kita berada, dan sholatlah sebelum kita di sholatkan, dalam keadaan apapun, kapanpun, dan dimanapun kita berada karena umur kita tidak menjamin akan hidup dan mati kita. Bahwasann Allah SWT lah sang pemilik kehidupan, maha dari segala maha dengan 99 sifat nya yang tercatat sebagai asma'ul husna, dan hanya pada -Nya lah kita berserah diri dan memohon perlindungan..

''Maka celakalah orang2 yang sholat (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya'' Qs. Al-maa'uun ayat 4-5.

                   SELESAI

Selasa, 26 Agustus 2014

Adinda, kapan kau datang?

                                  Dari awal, alasan aku berada di sini ialah untuk mencari bekal masa depanku bersama adinda, kekasihku yang sangat aku cintai, 3 tahun sudah berlalu aku merantau ke negara tetangga, di salah satu perusahaan kawasaki di jepang aku menetapkan sebagai karyawan, akupun tidak pernah memikirkan hal lain selain kembali ke samping kekasihku dan untuk mempersuntingnya menjadi bidadari di hidupku yang dengannya aku akan melewati dan merasakan susah senang bersama dalam menjalin rumah tangga, kita berdua sudah yakin bahwa tuhan sudah menggariskan takdirnya kepada kita untuk berjodoh, 5 tahun kita mengenal, dan 4 tahun kita menjadi sepasang kekasih adalah suatu hal yang membuat kita semakin terikat erat enggan untuk menjadi satu.
Hari itu, di tengah sibuk hariku dengan pekerjaanku, bukannya aku melupakan kekasihku, bukannya aku tak merindukan adindaku tercinta, hanya saja mungkin waktu itu pekerjaanku yang berada di tingkat terpenting, itupun aku bertahan lakukan hanya untuk agar bisa membahagiakan kekasihku. Rinduku semakin berlabu kala ku melihat 3 pesan singkat masuk di HPku, dari yang tercatat, itu ku terima sekitar 3 jam yang lalu, tepatnya sekitar jam 3 siang, di jam itu lah sangat kebetulan sedang sibuk-sibuknya aku, pesan singkat itu tertulis sebagai berikut, pesan pertama:''sholatlah dulu, sebelum kita di sholatkan'' kata itu lah yang paling aku suka darinya, membuatku bangga dan beruntung. Lagi pesan ke dua:''mas yoga, kapan pulang mas? aku sangat merindukan mas, pengen bertemu meski untuk yang terakhir kalinya, meski hanya sebentar saja'' ada yang ganjal disini, kurasa kekasihku saat itu bukan hanya sedang merinduku saja, sejauh kita berhubungan serindu-rindunya dia terhadapku tidak pernah ia berkata seperti katanya di pesan singkatnya itu.
Kemudian di pesan yang terakhir ku trima di waktu yang sama, pesan ke tiga:''mas yoga kekasihku yang sangat ku cintai.. mungkin saat kau kembali di rumahku sudah ramai, jikalau saat kau kembali kau tak menemukanku di manapun, datang lah di padang ilalang tempat terakhir kita berjumpa dulu, tanyakan pada ilalang atas keberadaanku, mereka tahu dimana aku berada kala itu, karna mungkin akupun akan menjadi salah satu diantara mereka, untuk menemanimu mas, maafkan aku..'' begitu katanya, jujur aku menjadi bingung di buatnya, dari setiap ucapannya di pesan singkat terakhirnya itu bahkan aku tidak mampu menemukan kesimpulannya, tidak aku buang waktu untuk bertele-tele, harus aku menelponnya langsung untuk meminta penjelasan dari semuanya, namun, berkali-kali aku menghubungi, selalu tidak aktif, jadi gelisah dan khawatir hatiku
Maka, ku balas satu persatu dari 3 pesan singkatnya itu, pesan pertama ku balas:''maafkan aku adindaku, saat masuk pesanmu aku sedang sibuk, tapi aku masih bisa sholat kok''
kemudian pesan selanjutnya:''sayang,, akupun sangat merindukanmu, akupun ingin bertemu denganmu, aku janji aku pulang nanti aku langsung melamarmu, kamu jangan bicara seperti itu, kita akan bertemu dan bersama selamanya''itu jujur dari dalam lubuk hatiku
dan pesan terakhir ku balas untuk menyuruhnya mengaktifkan hp nya dan menjawab telepon dariku, namun sama sekali tidak ada jawaban, dari sejak saat itu aku melai kepikiran, kegelisahan dan ketakutan menjelma menjadi satu berkelabu di hati juga fikiranku, bahkan sudah terfikir olehku akan pergi ke bandara malam itu juga untuk boking tiket penerbangan secepatnya, namun kufikir aku harus memikirkannya dengan serius.
                 Hingga pagi tiba, masih saja aku belum bisa memutuskan kapan akan aku pulang, belum juga adinda membalas pesanku atau setidaknya memberiku kabar, sampai pada akhirnya ku beranjak pergi ke tempatku bekerja, tapi hari itu bukanlah untuk bekerja seperti hari biasanya melainkan untuk memberikan surat keterangan ku untuk cuti beberapa bulan, tiba di kantor atasan, belum aku menyampaikan niatku, beliau sudah mendahuluiku berbicara, beliau bilang sudah mendengar kabar bahwa aku akan menikah entah dari siapa, maka beliau memberiku waktu beberapa bulan untuk off kerja, bukan hanya itu, beliaupun sudah menyiapkan tiket penerbangan untuk lusa, tidak ku menyangka semuanya serba kebetulan.
''adindaku tercinta, tunggu aku kembali sayang...'' gembira hatiku berbisik merindukan adinda.
Waktu ku rasa sangat lama berputar, dari detik ke menit, dari menit  ke jam karena mungkin yang ku tunggu hanyalah kabar dari adinda, ingin ku memberitahunya bahwa 2 hari lagi kita berjumpa dan aku akan segera memlamarnya, menyuntingnya sebagai ratu di hidupku, namun hpnya tetap saja tidak aktif, aku coba telepon ayah dan teman-temannya pun tidak ada jawaban, apa yang mereka rencanakan sebenarnya? mungkinkah kedatanganku akan di sambut oleh orang banyak seperti apa yang adinda katakan di pesan singkat terakhirnya itu? jika benar, tapi mengapa dia bilang bahwa aku tidak akan menemukannya? Entahlah...
                       Sampailah aku di hari itu, menunggu cukup lama di airport untuk memasuki awak pesawat yang tertulis di jadwalkan 1 jam lagi untuk lepas landas, ku pandangi foto kekasihku yang seakan memberiku kekuatan dan menghapus rasa lelah dan gelisah di hatiku.
''adinta cintaku... sebentar lagi kita akan bertemu'' suara hatiku mengakhiri waktuku tuk menunggu, saat aku mendengar pengunguman penerbangan pesawat, aku jadi gugup, sampaai selembar kertas yang bergambar adinda itu terpisah dari genggamannya tertiup angin dan entah terdampar dimana, ingin ku memcoba untuk mencari, tapi semua penumpang sudah memasuki pesawat dan tersisa waktu hanya 20 menit waktu untuk penerbangan, terpaksa aku meninggalkan dan membiarkan foto adindaku melayang entah kemana.
''hhmm,, biarlah, lewat beberapa jam lagi aku akan berjumpa langsung dengan orangnya, adinda, aku datang...'' yang tersirat di hatiku menyembangatkan langkahku, mengundang kegembiraan yang tidak terkira karna akan bertemu dengan sang kekasih tercinta.
Melewati 7 jam di udara membawaku sampai di negara tercintaku, dan hanya tersisa beberapa jam lagi aku akan bertemu kekasihku.
                   Dan akhirnya datanglah waktu yang ku tunggu-tunggu, sampai sudah aku di rumah adinda, tapi mengapa yang di katakan adinda di sms itu benar terjadi? ada apa di dalam rumah? mengapa ramai sekali? orang-orang kebanyakan mengenakan baju berwarna hitam, itulah warna duka. Sebuah tanda tanya besar menjelma hatiku.
''yoga..'' aku bertemu ridwan, teman SMP ku dulu, juga tetangga adinda, dia terkejut melihat kedatanganku
''wan, apa yang yang sudah terjadi?'' aku hanya ingin tau, sama sekali tidak terfikir olehku terjadi hal-hal yang tidak di inginkan yang menimpa adinda dan kelauganya
''kamu yang sabar ga..'' begitu jawabnya sambil menepuk punggungku, juga tergambar kesedihan dan penyesalan di raut wajahnya, aku masih tidak mengerti apa maksud perkataan ridwan
''Ada apa?'' Aku tanya lagi
''masuk lah ke dalam'' mungkin dia tidak mau menjelaskannya padaku.
Langkah kakiku gemetaran melaju dengan cepat ke dalam rumah adinda.
Tidak percaya, itu yang harus ku akui waktu itu, bumi seakan bergetar kencang mengombang-ambingkan batin dan jiwaku, jika yang ku lihat saat itu adalah benar, aku ingin buta saja, tidak ingin ku melihat dan mengalami semua itu,
Melihat adindaku tercinta tergeletak di depan mataku, terdapat kapas di hidung dan telinganya, pucat wajahnya, kain kafan sudah terpakai rapi di tubuhnya. Jatuh rasanya jantungku, benarkah adindaku telah pergi untuk selamanya....?
Mengapa....?
''Yoga, maafkan bapak tidak memberimu kabar berita apapun tentang adinda, karna dia yang meminta bapak untuk tidak menceritakannya padamu, satu hari sebelum dia koma, dia pergi entah kemana, dia bilang kamu sudah pulang dan akan menemuimu untuk menceritakan penyakit yang di deritanya yang kata dokter sudah menyerangnya sekitar 2 tahun yang lalu, bapak pun kecewa dengan sikapnya yang tidak memberitahukan apa-apa tentang penyakitnya itu kepada bapak sendiri, dokter bilang dia terserang kanker darah yang akhirnya pada hari ini telah merenggutnya dari bapak'' ayah adinda bangkit dari duduknya di sebelah adinda dan menangis kemudian menghampiriku yang masih kaku dan kaget.
Tapi aku pergi dari rumah adinda dan meninggalkan mereka semua, air mataku berceceran keluar dari mataku, aku tidak percaya, aku tahu sebenarnya adinda yg sesungguhnya itu ada di padang ilalang yang seperti ia bilang, dia sedang menunggu kedatanganku.
''Adinda.. adinda dimana kamu? aku sudah kembali, aku akan memenuhi janjiku untuk menikahimy, kita akan hidup bahagia bersama''aku berteriakdi sertai sendu tangisku setelah aku sampai di padang ilalang yg luas tempat kami merangkai ceritaa bersama dulu
''Adinda.... jangan pergi...'' sekali lagi aku mencoba, ternyata masih perih rasanya, adinda sama sekali tidak datang, ''tuhan,, mengapa kau tak hancurkan aku juga...?'' Penyesalan hatiku memprotes sang maha takdir
''Yoga,, adinda akan segera di antarkan ke pemakaman, sebaiknya kamu ikut saya kembali ke rumah untuk mengikuti pemakaman adinda'' mas sunan, kakak laki-laki adinda menghampiriku
''Aku akan menunggu adinda disini mas, adindaku masih hidupm dia bilang dia akan menunggu kedatanganku disini, hanya saja mungkin dia masih dalam perjalanan dan aku akan menunggunya sampai ia datang'' aku seperti orang gila waktu itu
''Yoga,, kasihanilah adinda, kamu tidak boleh trus seperti ini, dia pasti tidak akan tenang.
Perkataan mas sunan menyentuh sanubariku, seakan tersadar aku dari mimpi, dan akhirnya aku ikut bersama mas sunan untuk mengantar adinda kekasihku untuk di makamkan.
Setelah pemakaman selesai, aku bergegas kembali ke tempat itu
                    Adinda kekasihku... biarpun butiran tanah hitam itu menghilangkanmu dari pandanganku, namun mereka tidak mampu menghilangkan rasa cinta di hatiku, percayalah sayang,,, aku akan terus menunggumu sampai kau kembali datang menyapa hidupku. Dan disini, di tempat ini bersama ilalang aku akan terus menunggumu meski di setiap hariku selalu ada tanya
''Adinda... kapan kau datang....?''

                Selesai.

Senin, 25 Agustus 2014

Pangeran hutan

                  Seperti biasa diadakan di setiap tahunnya, aku mengikuti perkemahan bersama teman2ku di sekolah, moment yang paling menyenangkan bagiku, karena selain bisa menambah pengetahuan tentang alam, juga bersama teman2 menelusuri bukit dan hutan.
Dalam permainan berkemah sudah di atur oleh kakak pembina beberapa kelompok untuk mencari jejak peta yang sudah mereka sembunyikan di tempat2 tertentu, terdapat 5 orang perkelompok, dengan semangat dan suka cita kami semua berbondong-bondong untuk bisa melewati tantangan dari kakak pembina.
Waktu itu, hari sudah mulai sore, namun kelompok kami belum juga menemukan keberadaan peta yang tinggal hanya satu, ku rasa mungkin hanya kelompok kami yang belum sampai di tempat perkemahan.
''aduuhh,, pengen pipis nih, kalian tunggu disini yah, aku udah nggak tahan nih..'' aku sambil cengar-cengir menahan pipis.
''ya udah pipis disitu gih, jangan lama2'' jawab rina teman sekelompokku sambil menunjuk ke arah semak2 terdekat. dan aku segera pergi ke arah yang rina tunjuk tadi.
Padahal tidak lama aku pipis, tapi pas aku kembali di tempat kita berkumpul tadi, mereka tidak ada di situ, entah kenapa mereka meninggalkanku, padahal mereka sudah berjanji akan menungguku.
''vita.. rina.. nadia.. bagus.. ryan.. dimana kalian..?'' satu persatu ku panggil nama mereka, jujur takut yang menyertai langkahku, dan aku menangis, sedih dengan perlakuan mereka yang seperti itu, entah mengapa mereka begitu.
                Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali ku mencari dan berteriak memanggil mereka, tapi semakin aku mencari, semakin aku jauh dari perkemahan dan masuk ke tengah hutan. Hingga malam yang mencengkram tiba, sendiri, di tengah hutan, fikiranku sudah melayang kemana-mana, bahkan aku sudah pasrah, ku rasa mungkin aku akan mati di tempat itu, hari itu juga.
''rina,, vita,, dimana kalian? kenapa kalian tega meninggalkanku?'' aku menangis di bawah pohon besar yang hanya rimbun rerumputan dan semak-semak di sekitarnya, bahkan aku tak berani untuk melihat di sekelilingku, aku benar2 merasa takut.
''jangan takut, jangan menangis, ikutlah bersamaku'' seorang pemuda gagah, berpakaian seperti raja di kerajaan zaman dulu, dia mengulurkan tangannya untuk mengajaku bersamanya.
''kamu siapa? tolong jangan sakiti aku'' awalnya aku benar2 takut, aku menangis sejadi-jadinya
''tidak usah takut, aku tidak akan menyakitimu'' kemudian dia pun mengangkat dan membangkitkanku yang duduk kedinginan di bawah pohon. Akupun bangun, tapi aku masih tidak berani untuk menatap wajahnya, bagaimana kalau pas aku lihat wajahnya ternyata berwajah srigala, atau zombi??.. yang ada dalam bayanganku
''aku niko..'' dia pun mengulurkan tangannya mengajakku berkenalan, dan aku mencoba memberanikan diri untuk menatap wajahnya dengan tubuhku yang gemetaran karna takut
''aku vanessa'' awalnya ku kira mungkin aku akan jatuh pingsan setelah melihat wajahnya, namun ternyata tidak, wajahnya begitu mempesona, dan mampu menghilangkan ketakutanku dan memberanikanku untuk menjabat tangannya untuk berkenalan dengannya.
''apa yang kamu lakukan di tengah hutan malam2 begini sendirian?'' dia memulai percakapan, kita duduk berdua di bawah pohon besar setelah cukup lama kita berjalan
''aku mencari teman2ku, mereka meninggalkanku sampai aku tersesat seperti ini, kamu sendiri ngapain disini sendirian?'' itu pertanyaan yang wajib ku pertanyakan padanya
''kamu pasti lapar, aku ajak kamu kerumahku, kita makan malam bersama, yuk..'' tapi dia mengalihkan pembicaraan
''memangnya rumah kamu dimana?'' karna aku memang lapar
''ikut aku..'' dia menarik tanganku, hingga sampai kita di sebuah rumah seperti istana, sangat mewah, dari sudut ke sudut bangunanya terlihat berkilau seperti emas dan perak, megah dan sangat indah, menakjubkan,,, ku rasa aku hanya sedang bermimpi.
''Ini rumah kamu..?" aku sambil terkagum-kagum melihat rumah itu.
''Ayo masuk'' ajak niko. Kala itu aku sudah tidak merasa takut lagi, hanya saja ku rasa aneh, seperti di negri dongeng keberadaanku saat itu.
Terdapat buah2an dan banyak kue2 dan makanan lainnya tersuguh di meja saat aku sudah memasuki istana itu bersama niko, semuanya serba ada, sepertinya yg menyuguhkan sudah tahu akan ada aku datang di istana ini, di malam itu aku dan niko layaknya putri dan pangeran, di sertai dayang2 yang bersedia melayani kita. Kita makan malam bersama.
''Niko..'' tiba2 suara yg keras dan terdegar garang memanggil niko, saat ku menegok ke arah orang yg memanggil iko itu, seorang pria dan wanita sebaya mama dan papaku yg terlihat, mereka pun mengenakan pakaian raja dan ratu kerajaan. Aku tidak mampu untuk berkata-kata, bingung sendiri di buat mereka.
''Apa yang kamu lakukan..?'' tanya pria raja itu terhadap niko yang mendadak bangkit dari duduknya dan menghentikan makannya. Aku pun ikut berdiri, jujur aku takut dengan kedatangan mereka.
''Aku hanya mengajak temanku makan'' dia sedikit ketakutan, aku hanya senyum menyapa mereka.
''Kamu, kembalilah ke alammu sendiri'' dari perkataannya itu aku mulai mengerti bahwa aku bukanlah ada di alam ku sendiri, dan itu membuatku sangat takut, namun ntah apa yang harus aku lakukan aku sendiri tak tau
''Tidak, dia akan disini selamanya, dia akan menjadi ratuku'' niko menjawab dengan menantang
''Niko...'' ibu ratu itu seakan terkejut.
''Bawa dia masuk'' kemudian sang bapak raja menyuruh beberapa orang untuk membawa niko masuk kedalam dan aku di tinggal sendirian.
''Tidak, aku tidak mau,, aku ingin bersama vanessa, vanessa...'' niko berteriak yang sudah tertarik masuk kedalam, entah mengapa aku tidak bisa berkata, aku hanya diam, padahal aku takut menyaksikan tragedi menyeramkan dan menyedihkan itu.
''Vanesa,,,vanessa,,,'' niko masih memanggilku, yang lambat laun semakin suara niko   jauh terdengar, semakin jelas dan dekat terdengar suara kak roni, kakak pembina pramukaku
''Vanessa....'' yang kemudian juga ryan
''Vanessa...'' dan bersamaan mereka memanggi.
''Vanesa.. kak roni, vita, ryan, bagus, itu vanessa'' terdengar suara nadia seperti terkejut, dan kemudian menghampiriku yg masih setengah tidak sadar tergeletak di bawah pohon besar.
''Vanessa...'' vita membangunkanku, memang sebelum mereka sampai pun sesungguhnya aku sudah setengah sadar. Aku bangkit dari keterbaringanku yang entah aku tak tahu apa penyebabnya
''Vanessa, ma'afin aku, kemaren aku terburu-buru pergi meninggalkanmu karena begitu gembiranya saat ryan bilang udah nemuin peta, aku nggak tau kejadiannya akan seperti ini'' rina menjelaskan apa yang sudah terjadi, dengan penyesalan yang tergambar di wajahnya, aku hanya senyum
''Apa yang terjadi padamu nes, kenapa kamu ada di sini? Kamu tidur disini ataukah pingsan?'' Lanjut vita ingin tahu, aku sendiri masih bingung dengan apa yang sudah terjadi semalam, sehingga aku masih tak dapat terkata-kata.
''Sudahlah, biarkan vanesa tenang dulu, kita kembali ke tenda'' kak roni mengatur, dan kita kembali ke tenda.
Entah apa yang terjadi semalam, biarkanlah semua itu berlalu, mungkin itu hanya mimpiku saja, atau bahkan laki2 yang menyebut dirinya niko itu adalah pangeran di hayalanku. Dan malam itu, akan menjadi malam yang takkan terlupakan olehku.
''Niko,,, terimakasih untuk malam kemarin...'' bisik hatiku membawa langkahku menjauh dari tempat itu...
         
             SELESAI

Sabtu, 02 Agustus 2014

Tetaplah tersenyum untuk banyu

         

       ''Duhai tulang rusukku,,pelita hidupku, tahukah kau bahwa ku sangat merindumu, ingin rasanya untuk segera bisa membawamu duduk bersamaku di atas pelaminan, menuntunmu dengan cinta suci di hatiku.
Tunggu aku datang sayang,,, kita akan segera bertemu untuk mulai membangun rumah tangga yang bahagia, namun jikalau tidak aku datang,, ku harap kau masih tetap tersenyum untuk ku...

salam rindu setengah mati
        Banyu yoga prasetia - kekasihmu...
                          Sepucuk surat dari mas banyu akhirnya sampai di tanganku, satu minggu sebelum hari pernikahanku dengannya yang sudah terencana, ucapannya yang romantis, membuatku tersenyum sendiri tersipu malu pada bunga yang menyaksikan yang saat itu sedang ku siram.
''aduh,, aduh,, ada apa sih? pagi-pagi sudah senyum2 sendiri?'' bu de datang
''surat dari mas banyu bude'' jawabku malu2
''oh,, pantesan saja seneng banget, calon mempelai pria mengirimkan burung untuk sang mempelai wanita'' buda menyindirku.
''apa sih bude lebay deh,,'' aku salah tingkah jadinya, mematikan keran air dan duduk di kursi di teras depan rumah bersama bude sarapan pagi bersama
''kapan banyu pulang? kalian tinggal seminggu lagi loh..!!'' bude ingin tahu
''kemarin dia telepon aku, dia bilang lusa baru bisa pulang di jadwalin sama bos nya'' jawabku sambil menyeruput secangkir teh hangat mengawali sarapan pagi.
''sebenarnya menurut adat orang kita kalian itu sudah harus di pingit, kalo sudah satu minggu sebelum hari pernikahan tidak boleh keluar rumah lho..!!'' bude malah menakutkanku
''ah bude jangan ngomong kaya gitu lah, wallahu a'lam, insya Allah mas banyu adalah jodohku'' meski sedikit takut dengan ucapan bude namun aku harus tetap meyakini bahwa hidup dan mati manusia sudah ada yang mengatur, bukan menurut adat atau ramalan
''yo wis lah,, jangan berfikir yang aneh2, cepat habiskan sarapanmu bantuin bude ke kebun metik sayur'' bude mengakhiri percakapan kita dan masuk ke dalam rumah siap2 untuk ke kebun.
                    Sejak bude bilang tentang adat orang jawa tentang pingitan waktu itu aku jadi kepikiran dengan mas banyu, aku takut kehilangannya.
Hingga tibalah di hari dimana seharusnya mas banyu pulang ke kampung.
''halo,, assalamu'alaikum,, mas jadi pulang hari ini kan?'' aku menanyakannya lewat telepon
''tuulaaliit..tulaaliit...'' tapi kemudian terputus, padahal belum mas banyu menjawab.
saatku mencoba menghubungi lagi dari operator yang menjawab yang berarti nomor mas banyu tidak aktif. aku tambah khawatir
''kenapa kamu ndok..'' bude melihatku yang lagi cemas, bingung dan takut
''handphone mas banyu nggak aktif bude, aku takut dia terjadi apa2'' aku sungguh tidak tenang
''huss,, jangan berfikiran yang nggak-nggak, mungkin dia sedang di perjalanan, batrenya habis atau apa, kamu tenang lah, daripada kamu khawatir gini mending kamu rapihin undangan kamu gih'' bude menrnangkan aku.
1 jam, 2 jam, 3 jam, hingga malam aku tunggu mas banyu belum juga sampai rumah, kecemasanku semakin menguasai hatiku.
''bude, kenapa mas banyu belum juga sampai?'' di larut malam saat bude menyuruhku tidur
''sekarang sudah malam ndok,, mungkin motor banyu ada masalah yang mengharuskan dia untuk bermalam di jalan, kamu istirahat lah, nanti kalo banyu datang bude bangunkan kamu'' bujuk bude
''nggak bude, aku mau menunggu mas banyu sampai datang'' aku menolak bude
''yo wis, bude tidur duluan yah,, kamu jangan kemalaman tidur'' bude pun pergi meninggalkanku sendiri yang masih bolak balik menunggu kedatangan mas banyu di depan pintu.
Hingga pagi yang datngan mendahului mas banyu, aku terbangun saat bude membangunkanku yang tertidur di sofa di ruang tamu semalam menunggu kepulangan mas banyu
''mas banyu sudah pulang bude?'' pertama yang ku tanyakan pada bude, tapi  bude hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaanku. berkali-kali aku mencoba menghubungi HP mas banyu masih tidak aktif. dan aku menangis karena itu.
''aku akan ke kota mencari mas banyu sekarang bude'' aku langsung bangkit dan berniat untuk mencari mas banyu
''jangan gegabah melati,, tunggulah sebentar lagi, coba kamu telpon lagi'' saran bude
''tetep nggak aktif bude, tlong restui aku, aku benar nggak bisa seperti ini'' aku mencoba membujuk bude
''tapi kamu tidak tahu dimana tempat banyu bekerja, kamu anak gadis melati, bude nggak mau terjadi apa-apa sama kamu, cuma kamu satu2 nya yang bude punya setelah ibu kamu meninggalkan kita'' bude tidak mau kalah untuk lebih bisa membujukku
''bude tenang aja, aku bisa jaga diri aku sendiri, aku yakin aku pasti menemukan mas banyu'' lanjutku masih membujuk
''tapi ndok...'' bude pun masih tidak mau kalah
''udah lah bude, melati jalan sekarang yah..'' aku potong omongan bude dan segera ke kamar untuk melanjutkan niatku untuk pergi ke kota mencari mas banyu, karna tidak ada lagi orang yang bisa ku hubungi dari pihak mas banyu, mas banyu adalah anak tunggal, dia tinggal hanya seorang diri di daerah sumedang, ayah dan ibunya sudah meninggalkannya saat dia masih berumur 14 tahun, sama sepertiku yang sudah tidak lagi memiliki ayah dan ibu dan hanya tinggal bersama bude. dia sekarang menetap di jakarta untuk bekerja saat mengenalku 4 tahun yang lalu, pun di jakarta kita saling mengenal, saat aku hanya sebagai pengunjung dan dia pekerja tetap di ibu kota indonesia kita itu.
                         Tekad dan niat bulatku membawaku sampailah di jakarta, langkahku hanya berbekal cinta untuk menemukan mas banyu. ku datangi tempat kerjanya di salah satu perusahaan produk motor honda yang ada di jakarta.
''permisi mas, numpang tanya, mas kenal sama mas banyu kan? salah satu karyawan disini'' karena aku sendiri kurang tahu apa jabatan mas banyuu di situ
''dia sudah off kemarin mba'' jawabnya
''off..?apa mas tahu dia off berapa hari?'' aku tanya lagi
''kalao itu saya kurang tahu mba, itu urusan banyu dan bos kita'' dia jawab dengan sibuk memeriksa mesin peralatan motor yang masih baru di sebelahnya.
''oohh,, gitu ya? mmm,, mas tahu alamat dia tinggal?'' karena aku juga tidak tahu tempat kos nya, tapi dia tidak menjawab, entah tidak dengar, atau tidak mau menjawab
''aku tunangannya mas banyu, bisa mas tolingin aku?'' ku rasa dia tidak mau memberi tahu karena itu adalah hal yang termasuk privacy
''oh maaf mba, tunggu sebentar aku catat alamatnya'' akhirnya dia mau membantuku menuliskan alamat mas banyu.
Ku tanya satu persatu orang-orang  yang sekiranya tahu alamat yang ku bawa itu, tapi masih saja belum ku menemukan orang yang tahu. di sebuah warteg ku menghentikan langkahku sejenak, berniat menyeruput segelas air dingin berharap menghapus sedikit lelah dalam langkahku.
''bu boleh minta tolong buatkan aku segelas teh manis?'' aku mulai memesan
''tunggu sebentar neng..'' ibu warteg menjawab. tak lama menunggu datanglah pesananku
''makannya nggak neng'' ibu warteg menawarkan, aku hanya senyum dan menggelengkan kepalaku menjawabnya
''oh iya bu,, ibu tahu alamat ini nggak..'' tidak ada salahnya aku menanyakan pada ibu itu
''jalan simpang tiga mah emang disini neng, tapi kalo nomer rumahnya ibu nggak tahu tuh, nyu lo tahu kagak?'' dengan logat betawinya dia juga menanyakan pada satu orang laki-laki yang ada di sebelahku yang juga sedang minum disitu. dia mengambil selembar kertas yang tertulis alamat mas banyu yang ku sodorkan ke ibu warteg tadi, ada yang aneh dari ekspresi mukanya saat melihat alamat itu, lama dia melihat, cukup lama kita menunggu jawabannya tahu atau tidak.
''ikut aku'' kemudian dia menjawabnya
''maksudnya mas tahu?'' aku memperjelas. tapi dia acuh, tidak menjawab pertanyaannku dan lanjut bangkit dari tempat duduknya untuk melanjutkan berjalan. aku bingung, aku takut aku hanya di tipu, apalagi posisiku waktu itu ada di kota yang kebanyakan kriminal
''ikut aja neng, mungkin dia tahu, tenang aja dia orang baik2 kok, dia langganan ibu'' sejenak ku melirik ke ibu warteg, dan dia menyarankanku untuk mengikuti laki-laki itu.
meski ragu dan takut, aku akan coba tuk mengikutinya, dengan bismillah ku mulai melangkah.
                   Smpailah di satu rumah kos sederhana, dia masuk ke dalam rumah itu, aku semakin bingung di buatnya.
''silahkan masuk'' dia memegang gagang pintu memprsilahkan aku masuk. jujur aku takut, tapi dari nomor rumah yang terpampang di tembok samping pintu, rumah itu memang tempat tujuanku. aku masih diam
''kamu mencari banyu kan?'' kemudian dia tanya, masih di depan pintu
''mas kenal mas banyu? apa mas banyu ada di dalam?'' aku mulai senang dan sedikiit lega
''masuklah..'' bujuknya dan tanpa ragu aku masuk ke dalam rumah kos itu.
ku rasa aku akan segera menemukan mas banyu saat melihat gitarnya yang tergeletak di kursi.
''mas temannya mas banyu? mas banyu nya kemana?'' kini kegembiraan yang tergambar di mukaku
''istirahatlah dulu, aku tahu kamu capek'' dia mengalihkan pembicaraan. aku jadi bingung dibuatnya, aku hanya diam.
''di situ kamar banyu'' dan dia bergegas pergi lagi, sungguh sikapnya sangat membingungkanku, tapi aku yakin di situlah mas banyu tinggal, tidak apa lah, akan ku tunggu dia sampai pulang, dia pasti datang. dan ku memasuki kamar yang di tunjukkan teman mas banyu tadi. penat dan lelah di tubuhku perlahan hilang saat ku menemukan fotoku bersama mas banyu di kamar itu, bahagia melihatnya, ingin selalu bersamanya.
''makanlah dulu, waktu makan siang sudah kelewat lama'' membuatku kaget, kedatangannya yang secara tiba-tiba, akupun menghampirinya ruang depan yang membawa satu kotak nasi warteg untukku makan.
''mas satu kerjaan sama mas banyu yah? pasti sudah lama banget berteman sama dia, mas banyu lagi kemana sekarang? kapan dia pulang?'' aku memborong pertanyaan
''tidak usah banyak bicara, makanlah dulu'' dia menyuruh, dan aku menurutinya, sedikit kesal hatiku, karna dia tidak menjawab pertanyaannku, tapi saat dia memainkan gitar mas banyu menemaniku makan kesalku jadi hilang.
''istirahatlah,, anggap kaya dirumah sendiri, aku pergi dulu sebentar'' katanya bergegas pergi setelah aku selesai makan.
''mas mau kemana? pergi-pergi terus? oh mas mau nyari mas banyu yah?'' ku rasa aku sudah seperti orang gila. terlebih saat dia melanjutkan pergi tanpa menghiraukan pertanyaanku. tak apalah, akan ku tunggu mereka pulang.
Sampai malam datang, aku terbangun dari tidurku, aku tertidur saat menunggu mas banyu pulang, tapi bukankah aku tertidur di kursi ruang depan? kenapa sekarang aku ada di kamar?
aku keluar kamar untuk mencari tahu, di kursi ruang depan hanya ada teman mas banyu yang sedang tidur, dimana mas banyu ku rasa dia tidak datang, ingin ku membangunkan dia untuk bertanya, tapi jika ku lakukan itu jelas aku mengganggunya, hari itu aku sudah banyak merepotkannya, biarkanlah saja dulu, tunggu pagi baru aku akan bertanya.
Pagi kemudian....
''selamat pagi mas..'' aku menyapanya yang sedang mengelap motornya di depan rumah
''eh, pagi..'' hari itu ia menjawab di iringi senyuman.
''semalam pulang jam berapa? mas banyu nggak ikut pulang yah?'' aku mengawali bertanya. namun lagi dia tidak menjawab
''aku merepotkan mas yah?'' ku rasa begitu
''semalam aku pulang jam 9, aku lihat kamu ketiduran pules banget di kursi, aku bangunin nggak bangun juga, jadi aku angkat kamu pindahin ke kamar'' ternyata dia yang memindahkanku
''mas angkat aku?? berarti bener yah mas banyu nggak ikut pulang?'' aku jadi tidak enak hati
''aku berangkat kerja dulu, di meja ada roti sama susu kamu seduh sendiri'' lagi dia mengalihkan pembicarakan, mengacuhkanku dan melanjutkan melajukan motornya, entah kenapa setiap kali aku menanyakan tentang mas banyu dia tidak menjawabnya. akupun masuk ke dalam, tak sengaja aku menemukan selembar kertas di atas kulkas saat ku hendak menyeduh susu yang dia beri untukku sarapan tadi, itu surat dari mas banyu yang tertulis;
''selamat pagi melatiku...
aku tahu kamu menghawatirkan aku,, 
tapi ketika kamu membaca tulisanku ini, semoga kamu tidak lagi khawatir karna aku baik-baik saja..
maka tetaplah tersenyum untukku....

Yang kau cinta dan yang mencintaimu
       Banyu yoga prasetya...
jujur, dengan kedatangan surat itu aku jadi tambah semangat lagi, senyumpun kembali nampak di bibirku. 
terlebih saat ku nengok ke arah pintu sepertinya ada seseorang yang sedang memperhatikanku, ku rasa itu adalah mas banyu.
''mas udah pulang yah?'' sore saat ku sedang duduk santai memandangi gitar mas banyu sambil senyum2 sendiri, teman mas banyu pulang, yah, mas banyu meng kos rumah ber dua dengan temannya
''mas namanya siapa sih? padahal dari kemaren kita bertemu tapi aku tidak tahu nama mas'' aku maasih terbawa suasana gembira oleh surat dari mas banyu
''terserah kamu mau panggil aku apa'' jawaban yang aneh, dia sambil jalan ke tempat air minum
''mas, kemaren mas banyu pulang kan?'' aku menanyakan kepastiannya, tapi dia bengong menatapku seakan bingung mau jawab apa
'' tadi pagi aku nemu surat dari dia, dia bilang dia pasti datang'' aku dengan sangat gembira mengatakannya, namun tetap aja dia diam tidak menghiraukan aku, seakan beribu kata2 rahasia di balik tatapan bingungnya terhadapku, entah apa yang dia fikirkan terlebih saat aku bicara dan menanyakan tentang mas banyu
''mas mau kemana?'' dia malah pergi lagi, meninggalkanku sendiri lagi. entah sampai kapan semuanya akan jelas, hari pernikahanku sudah ada di depan mata, tapi mas banyu masih saja sempat-sempatnya begitu..
                     Hari ke 3 sudah aku berada di jakarta, mencari keberadaan mas banyu, tinggal di kos nya bersama temannya, tinggal tersisa 3 hari lagi untuk melaksanakan pernikahan kita, aku yakin hari itu pasti mas banyu datang menemui aku
''mas, boleh nggak hari ini aku ikut mas pergi untuk mencari mas banyu?'' dia yang lagi duduk santai, ku rasa waktu yang tepat untukku berbicara baik-baik dengannya, tapi masih saja dia diam, sambil memetik perlahan-lahan senar gitar mas banyu
''mas, jawab dong, kenapa sih setiap kali aku tanya tentang mas banyu mas selalu menghindar dan mengalihkan pembicaraan? mas tahu kan kalau 3 hari lagi aku dan mas banyu akan menikah?'' aku menjelaskan. kemudian dia bangkit dari duduk lesehannya yang sambil memainkan gitar.
''ikut aku'' dia menarik tanganku 
''kemana?'' aku hanya ingin tahu
''kamu pengen ketemu sama banyu kan?'' ku harap kali ini dia sungguh-sungguh akan membawaku menemui mas banyu. akupun menurutinya.
tapi kok dia malah ke terminal bus?
''kok kesini mas? mana mas banyu?'' aku berusaha bertanya, dia masih diam, malah menarik tanganku dan memasuki sebuah bus tertulis bandung-sumedang di kaca depannya. entah apa maksudnya aku sendiri bingung, saat ku masuk dan ku duduk di kursi sebelahnya.
''maksud mas apa sih? kita mau kemana? dimana mas banyu?'' aku masih ingin tahu, tapi aku tanya di waktu yang salah, ternyata dia tidur. perasaan bingung pun menghantuiku.
Entah berapa jam perjalanan yang di tempuh, akhirnya berhentilah bus yang kita tumpangi, semua penumpangpun turun termasuk aku dan mas teman mas banyu itu.
''apa mas banyu ada disini?'' aku masih tanya
''ikut lah aku'' hanya itu yang ia jawab. tapi aku sama sekali tidak terfikir bahwa mas banyu ada di situ, dia berjalan lurus menuju suatu tempat setelah turun dari bus, aku hanya mengikutinya hingga ke tempat yang ia maksud, dan dia sukses membuatku bingung setengah mati karena dia membawaku ke tempat pemakaman umum, apa maksudnya, hingga terhentilah langkahnya di depan satu makam entah itu makam siapa.
''kenapa mas membawaku kesini?'' aku benar2 bingung. dia tidak menjawab dia hanya menengok ke makam itu dengar raut wajahnya yang terlihat kecewa, sedih dan menyesal, matanya pun terlihat berkaca-kaca. saat ku melihat batu nisan dari makam itu akupun tidak percaya, seperti petir menyambar hatiku, mati rasanya aku saat itu, makam yang sepertinya baru itu tertancap batu nisan dengan tulisan atas nam mas banyu, banyu yoga prasetya bin maskur, wafat 3 hari yang lalu, namun aku masih berharap itu bukan mas banyu calon suamiku.
''mas...?'' aku tidak berani melanjutkan bicara, hanya linangan air mata yang mewakili pertanyaanku terhadap teman mas banyu yang juga menangis
''kamu ingin bertemu dengan banyu, disini lah banyu, maafkan aku'' kemudian dia menunduk dan menangis
''ngaak mas, mas salah, ini bukan mas banyuku, dia bilang 3 hari yang lalu dia udah dalam perjalanan pulang dan akan menikahiku..'' aku masih tetap tenang, meski di hatiku sudah kacau dan linangan air deras mengalir dari mataku
''maafkan aku melati.. 3 hari yang lalu, saat dia akan pulang menemui kamu untuk melaksanakan pernikahan kalian, dia pulang bersamaku, dari temannya yang lain akulah yang dia pilih sebagai temannya yang paling baik, maka dari itu dia menginginkan aku hadir di pernikahannya, pun sama denganku, banyu adalah sahabatku yang paling baik yang ku punya satu2 nya, maka aku dengan senang hati mengantarkannya pulang untuk menemuimu, awalnya semuanya lancar dan baik2 saja, namun naas nya kejadian itu terjadi, di tengah terik matahari yang menyengat, mungkin dia merasa haus, ku berhentikan laju motorku saat dia memintaku berhenti sejenak untuk membeli sebotol minuman segar untuk menghilangkan dahaganya, saat aku turun dari motor dan memasuki warung kopi di pinggir jalan untuk membeli minuman itu, sebuah mobil truk datang dari arah depan dengan keadaan supirnya yang sedang ngantuk, aku melihat banyu sangat gembira memandangi fotomu dan menciumi cincinnya yang melingkar di jarinya, kurasa itu adalah cincin tunangan kalian, dia tidak menyadari bahwa truk yang melaju kencang itu berjalan kearahnya yang supirnya meleng menyetirnya sehingga....'' dia melanjutkannya dengan tangis, mejelaskan dengan jelas tentang kejadiannya. air mata sukses mengalir deras di pipiku
''nggak,, aku nggak percaya, mas bohongin aku'' aku masih tidak percaya, yang kemudian histeris dan jatuh terdampar di sebelah makam yang ia maksud makam mas banyu itu. aku menangis sejadi-jadinya, kemudian sentuhan pelukan menyentuh tubuhku, kurasakan dalam dekapan mas banyu, hangat dan nyaman yang itu adalah pelukan dari teman mas banyu.
''maafkan aku kemarin, surat yang kamu baca itu ada lah tulisanku, aku tidak tega mengatakan ini semua padamu, bahkan akupun tidak berani memberitahumu siapa namaku hanya karna aku takut kamu hanya akan mengingatnya'' dia mengakuinya, tapi aku masih menangis
''namaku juga banyu, banyu pratama jelasnya, sebelum banyu pergi, dia menitipkan cincin ini, dia sendiri yang pakaikan di jari aku, dia memintaku untuk tidak langsung bicara sama kamu, dia tahu kalau akhirnya kamu akan datang ke jakarta untuk mencarinya, dia menyuruhku untuk menjagamu selama itu, itu alasannya kenapa aku selalu menghindar setiap kali kamu menanyakan keberadaan banyu'' lagi dia menjelaskan, sendu menghebohkan tangisku.
''kamu sudah mengetahui semuanya, kurasa sudah seharusnya akku mengembalikan cincin banyu sama kamu'' dan dia melepaskan cincin yang melingkar di jarinya itu, namun aneh,, cincin itu tidak dapat lagi ia lepaskan, serasa sudah menyatu dengan jarinya, entah itu berarti apa.
                       Meski sulit untukku percayai tentang kenyataan ini, namun aku harus tetap menerimanya, dan meyakini bahwa ini semua adalah takdir dari Allah, mungkin cinta-Nya ke mas banyu lebih besar dari pada aku, maka Allah ingin memilikinya seutuhnya dan tidak menjodohkannya untukku, dan aku hanya bisa berdo'a semoga mas banyu bisa bahagia di sisi Allah...
''melati,, apa yang terjadi ndok,, mana banyu'' mas banyu temannya mas banyu mengantarku pulang kembali ke rumah budeku di magelang, rumah sudah ramai, pajangan rias pengantin sudah banyak yang terpampang menghiasi rumah budeku yang di situlah akan di laksanakan upacara pernikahanku dengan mas banyu tadinya, dan itu membuatku serasa benar2 mati, entah apa yang terjadi padaku, tubuhku melemah dan aku terjatuh, setelah itu aku tidak mengingat apa-apa lagi.
Entah berapa lama aku tidak sadarkan diri, saat ku buka mata sepi yang kurasakan
''kalau begitu aku pulang dulu bu'' suara mas banyu temennya mas banyu terdengar, di luar kamarku pamitan sama budeku untuk pergi, tapi rasanya hatiku tidak rela dia pergi
''iya, terimakasih banyak yah dek sudah mau mengantarkan melati kembali ke rumah'' bude menjawab
''mas banyu.....'' aku teriak menghentikan langkahnya.
''aku harap kamu bisa memaafkan aku melati'' katanya setelah aku berada di depannya
''cincin kamu, aku kembalikan'' tadinya masih susah untuk di lepas, tapi perlahan-lahan bisa terlepas juga. mungkinkah itu pertanda bahwa mas banyu sudah tenang melihatku sudah kembali ke rumah dengan selamat? mungkin iya, mungkin juga tidak. aku menerima cincinnya, dan dia berbalik badan berniat untuk pergi meninggalkanku.
''mas banyu jangan pergi...'' saat beberapa langkah ia mulai berjalan, hatiku terasa sangat sakit, aku sedih, sepertinya aku tidak menginginkan kepergiannya. tak sadar aku telah memeluknya dari belakangnya.
''melati...'' mungkin dia kaget, akupun jadi tidak enak hati, namun entah mengapa, tanganku semakin erat memeluknya, dan semakin tidak ingin melepaskannya.
tidak ku sangka akan seperti ini jadinya, semoga ini bukan lagi cinta, karna aku hanya mencintai mas banyu yang aku punya.
Mas banyu... aku mencintaimu selamanya....
dan aku akan tetap tersenyum untuk banyu....:')

                                       SELESAI

Jumat, 01 Agustus 2014

DIANA

                 

                       Handie came udah, buku pulpen udah, baju, sepatu, tas, aksesoris udah, semuanya one direction punya, boy band asal london favoritku akan mengadakan konser untuk yang pertama kalinya di indonesia, maka dari itu aku persiapkan sesempurna mungkin penampilanku untuk hadir di konsernya.
''tiitt..tiitt...'' perfect, suara kadri mengklakson motornya sudah terdengar, saatnya untuk melaju. 
''zayn, liam, harry, louis, nial,, i'm coming soon...'' ku mencium tembok yang ku tempel poster berukuran besar one direction, aku rasa sepertinya aku kaya orang gila waktu itu
''praakk...'' sesuatu yang paling benci untukku dengar, entah barang apa lagi yang di banting, terlihat mama dan papa bertengkar, lagi dan lagi, entah apa penyebabnya aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu. kesal, sedih dan marah mungkin sudah menjadi sifatku di setiap harinya yang selalu menyaksikan perang mulut antara mama dan papa, bagiku itu sudah menjadi hal yang wajar, sudah menjadi kebiasaan mereka.
''diana,, mau kemana kamu?'' masih sempat2 nya ingin tahu urusanku, fikirku saat pertengkaran mereka berhenti sejenak, mama bertanya. kemudian aku pergi menemui kadri di luar yang sudah menunggu, tidak menghiraukan mereka mau ngomong apa, juga yang sedang banting-bantingan barang.
''udah siap semuanya, kita jalan sekarang'' aku dengan rasa gembira yang akan menonton konser band kesayangan.
''om dan tante ribut lagi??'' dari teman2 ku yang lain cuma kadri satu2nya teman yang paling dekat denganku, mungkin dia sudah menjadi sahabatku, tiap hari aku hanya bersamanya, dia mampu mengertiku, dia bisa menjadi kakak, ibu juga ayah untukku, bahkan kebiasaan bertengkar mama dan papaku dia sangat faham.
''kaya nggak tahu mama papa aja, udah yuk jalan, ntar keburu rame loh..!!'' aku ingin segera menuju lokasi konser. kadri kemudian menyalakan mesin motor ninja seksinya itu bergegas untuk melaju.
''eehh,,, tunggu,, tungguu..'' ada yang tertinggal, maka ku hentikan kadri melajukan motornya
''kenapa?'' kadri menengok ke arahku
''kado buat one direction ketinggalan, aku ambil dulu ke kamar bentar yah,,'' aku turun dari motor, ku lihat kadri menggeleng2 kan kepala, namun ku segera bergegas masuk.
Kali ini sepi, kemana perginya mama papa? mestinya harus mereka tahu, sebencinya aku terhadap mereka, akupun masih menghawatirkan mereka. aku melanjutkan melangkah ke kamarku
''praakk..'' lagi dan lagi, ku kira mereka sudah mengakhiri pertengkaran hari ini, ternyata malah tambah heboh pertengkaran mereka, tadinya aku tidak mau memperdulikan mereka, akupun tidak mau tahu urusan mereka, namun waktu itu ku lihat papa menampar mama sampai mama menangis, akupun masih mempunyai perasaan dan hati nurani, aku tidak tega melihat mama tersakiti, dan aku mendekati mereka
''pa,, apa yang papa lakukan?'' aku membentak papa yang sedang marah hebat, mama yang terdampar di lantai menangis kesakitan karna tamparan papa, ku peluk.
''kamu tidak usah ikut campur, jangan bela mama kamu ini yang keganjenan sama suami orang'' papa memarahiku. dari makian papa, aku tahu papa cemburu, itu berarti sesungguhnya papa pun sangat mencintai mama, mungkin hanya saja karna tidak bisa menahan emosinya.
''pa,, tapi bukan begini caranya, kenapa sih kalian selalu ribut sendiri? kalian tidak pernah menganggap aku ada?'' dan akhirnya aku menuntut hakku atas kasih sayang mereka sebagai orang tuaku
''kamu fikir kamu juga nggak kejanjenan sama istri orang?'' sakit sekali rasanya hatiku, mama dan papa sama sekali tidak menghiraukan kata-kataku, mama malah menantang papa untung melanjutkan bertengkar, tak terasa air mata mengalir deras dari mataku membasahi pipiku
''dasar wanita murahan...'' sepertinya emosi papa sudah memuncak, kembali lagi dia ingin memukul mama, tapi karena aku tidak tega melihat mama yang terus-terusan menangis, aku menghalangi papa untuk memukul mama, tanpa ku berfikir akhirnya pukulan papa mengenai kepalaku sampai aku terjatuh kebawah tangga, karna peristiwa itu terjadi tepat di sebelah tangga di lantai atas di rumahku. sempat ku rasakan sakit yang sangat hebat di kaki dan kepalaku, terdengar teriakan kadri dari luar memanggilku, dan setelah itu apa lagi yang terjadi entah aku tidak tahu.
                      Sepertinya aku tidur, saat ku membuka mata yang pertama kali ku lihat adalah botol infus yang tergantung dan selangnya yang menuju tanganku, entah apa yang terjadi, berapa lama aku tertidur.
''kadri'' ku lihat hanya kadri seorang yang ada di sebelahku
''diana.. akhirnya kamu sadar juga, kamu tunggu sebentar, aku panggil dokter dulu'' kemudian dia pergi, dari ucapan kadri pelan2 ku mengingat apa yang sudah terjadi denganku. dokter datang dan memeriksaku
''keadaan diana sekarang cukup stabil, tapi untuk sekarang harus banyak istirahat'' penjelasan dokter.
''terimakasih dokter'' kadri mengantarkan dokter ke luar kamar
''aku pengen nonton konser one direction, kita jalan sekarang dri'' aku masih ingat itu
''diana,, kamu masih sakit, kamu tidak dengar yang dokter katakan tadi?'' kadri menolak
''tapi aku pengen nonton dri, pertama kalinya one direction ke negara kita, aku juga ingin menyambut kedatangan mereka'' aku berusaha membujuk kadri
''mmmm,,, konser one direction... sudah di gelar kemaren'' kadri dengan ragu dan takut mengatakannya padaku. aku hanya diam memelototi kadri
''sudah sehari kamu di rumah sakit, sehari kamu nggak sadarkan diri'' jelasnya kadri jelaskan
''nggak dri,, aku harus ketemu mereka..'' aku menangis kecewa dengan apa yang sudah terjadi, bertahun-tahun ku menunggu moment bersama the boys one direction, setelah hampir kejadian aku tidak bisa hadir di konsernya.
''tapi konsernya udah berlalu di..'' kadri menenangkanku. Aku membangkang omongan kadri, berusaha bangkit sendiri dari ranjang pasien, tapi kakiku rasanya kaku dan sakit sekali, sangat susah untuk ku gerakkan.
''kakiku kenapa? kenapa sakit dan susah banget buat di gerakin??'' aku hanya ngomong sendiri
''dokter bilang urat syaraf di kaki kamu ada yang rusak dan patah, mungkin akibat kamu jatuh kemaren, makanya dokter bilang kamu harus banyak istirahat, nggak lama kok, paling 2 hari kamu sudah boleh pulang, asal kamu nurut'' kadri menjelaskan
''haaahhh..?? nggak mau dri, aku pengen nemuin one directin sekarang juga'' sukses ku hadirkan air mata, tak tertinggal sendu pun menghebohkan tangisku, kadri memelukku.
kemudian datang seseorang memasuki kamarku yang ternyata dia adalah mama..
''diana sayang,, gimana kamu sekarang? di mana yang sakit nak..?'' mama duduk di sebelahku, tapi aku tidak menghiraukannya, aku kembali berbaring dan memalingkan mukaku darinya, ku rasa kehadirannya hanya menghadirkan emosi di hatiku
''diana...'' lagi mama memanggilku, menyentuh pundakku
''sejak kapan mama perhatian sama aku? nggak usah ma, makasih, pertengkaran mama lebih penting'' aku marah dan kecewa
''maafkan mama nak, mama hanya tidak terima atas tuduhan papa kamu yang katanya mama selingkuh, padahal mama kerja, bukannya selingkuh,itupun kejadiannya sudah lama berlalu, sekitah 4 tahun yang lalu, tapi papa kamu masih saja keras kepala'' masih saja mama mengutamakan egonya. mungkin lebih baik aku diam.
''diana sayang... maafkan mama ya sayang'' fikirku paling hanya membujukku saja, jika seandainya aku maafkan paling juga ngulangin lagi.
aku masih diam
''diana...'' satu lagi yang datang, papa menemuiku
''untuk apa kalian datang? ingin memperlihatkan pertengkaran kalian lagi?'' sindirku
''maafkan papa sayang, tidak semestinya papa sekeras itu'' bujuk papa.
''kadri'' tidak akan ku hiraukan kehadiran mereka, aku sudah benar2 marah karena gara-gara mereka aku tidak bisa menonton band favoritku
''aku sudah baik banget, nampaknya di luar cuaca sangat bagus, boleh nggak aku jalan-jalan keluar?'' aku hanya berbicara pada kadri
''oh ya udah, aku antar kamu'' jawab kadri
''maaf om, tante, menurut aku sebaiknya biarkan dian tenang dulu'' aku dengar kadri berbisik dengan mama dan papa. karena sikapku yang acuh mereka pun tidak ada pilihan lain untuk menolak saran kadri.
                        3 hari berturut-turut aku lewati di rumah sakit, tiap hari bertemu orang sakit dan aku sendiri tengah sakit.
''saya rasa sudah tidak ada masalah lagi dengan diana, hari ini dia sudah boleh pulang'' dokter menjelaskan kepada kadri
''dokter serius??'' gembira yang tergambar di raut wajah kadri, akupun senang mendengarnya
''tapi untuk sekarang dia tidak boleh terlalu lelah karena kakinya masih belum terlalu kuat'' saran dokter
''oh, iya dok, makasih yah..'' aku sangat gembira.
Tapi kegembiraan itu perlahan hilang kembali mengingat aku hanya seorang diri, punya orang tua tapi seperti anak yatim piatu, hanya kadri satu2nya keluargaku, aku juga jadi tidak bisa lagi untuk mnonton konser one direction band favoritku yang sudah berlalu.
''udah,, jangan sedih dong,, kita beresin barang2 kamu, terus kita pulang, aku janji deh ntar malem aku traktir kamu makan di kafe favorit kita'' kadri terus membujukku. di saat sesusah apa pun aku tetap hanya kadri yang selalu ada di samping aku, akupun tersenyum manis menanggapi bujukannya.
saat ku melihat ke arah wajahnya, ku melihat terdapat luka memar di bagian keningnya, tadinya memang aku tidak mel;ihatnya karna tertutup oleh rambutnya, tapi setelah ku perhatikan baik-baik sepertinya itu luka yang lumayan cukup parah dan terasa sakit.
''kadri,, kening kamu kenapa?'' aku mengusap rambutnya menyingkirkannya dari memar yang tertutupi itu
''oh,, ini? nggak ko, nggak papa'' dia menutupinya dengan tangannya, alhasil akupun jadi mengetahui lukanya yang lain yang terletak di siku lengannya
''astaga,, kamu kenapa? di siku juga ada'' aku sedikit menyentuhnya
''auwh...'' dia kesakitan karna aku sentuh
''oh,, sakit yah? maaf... kamu kenapa sih? kamu nggak mau cerita sama aku?'' aku cemberut
''nggak,, bukan gitu,, aku cuma jatuh aja dari motor kemaren'' pengakuannya.
''ya ampun... kok bisa sih? lain kali hati-hati dong'' aku percaya. dia hanya senyum..
                         Malam kemudian.....
kadri datang menjemputku untuk menepati janjinya yang katanya akan menraktir aku makan malam di kafe favorit kita. 4 hari di rumah sakit, akupun rindu suasana luar, dan aku mengiyakan ajakan kadri.
sampai lah di kafe.
''ko sepi banget dri? jangan2 kafe nya libur hari ini?'' karena tidak ada satupun pengunjung yang datang, ku rasa kafe tutup hari ini.
''nggak ah,, kamu nggak denger di dalem ada suara musik merdu banget'' kadri lain nebak denganku. aku jadi bingung di buatnya
''selamat malam,,, selamat datang di kafe kami..'' sampai kita di depan pintu, si pelayan ramah menyamput kedatangan kita, ku rasa malam itu berbeda, tidak seperti biasanya.
dan kita masuk ke dalam.
''waaaahhhh,,,, indah banget'' benar2 berbeda, lilin kecil terpajang banyak sekali membentuk nama ku ''DIANA'' di sebelah meja yang kadri pesan untuk kita makan, alunan musik lagu favoritku yang berjudul ''diana'' dari one direction mulai di nyalakan, saat pelayan datang menawari makanan ke kita aku serasa di manja, serasa di perlakukan seperti putri raja, entah kerjaan siapa itu semua
''kamu bahagia malam ini?'' dari pertanyaan kadri itu aku bisa menebak siapa yang ada di balik semua itu
''ini semua kerjaan kamu?'' aku ingi tahu. kadri hanya tersenyum
''diana... let me be the one to light a fire inside those eyes, you can love me, you don't even know me, but i can feel your crying,
diana.. let me be the one to lift your heart up and save your life, i don't think you'll even realize, baby you'll be saving mine'' tiba2 5 orang laki2 menyanyikan lagu itu dari belakangku, lagu favoritku yang berjudul diana dari one direction, yang membuat aku serasa melayang, suara mereka mirip sekali dengan suara zayn, liam, louis, hary dan nial, the boys one direction. awalnya aku tidak tahu siapa mereka, mereka mengenakan topeng, 5 orang, bergaya sama persis seperti the boys, sempat aku mikir paling itu juga kerjaan kadri yang nyuruh temen2 nya untuk bergaya seperti mereka buat menghibur aku..
''we all need something, this can't be over now, if i could hold yeah, swear i'll never put you down..'' namun serasa detak jantungku berhenti, seperti hadir semut-semut kecil dari dari bawah menyerbu kakiku, kemudian tanganku, kemudian tubuhku, kaku bibirku, tidak dapat mengucapkan kata, senyumpun sangat susah, seakan tidak percaya saat hary melanjutkan menyanyi dan kemudian mereka ber 5 melepaskan topeng hallo kity yang mereka gunakan, ternyata mereka adalah benar-benar the boys one direction...
''sureprize...'' mereka dengan kompak teriak memberikan kejutan untukku atas kehadiran mereka. aku bengong dengan mulut menganga karna tidak percaya.
''how can you be here..?'' akhirnya aku bisa bicara.. mereka hanya senyum, membuka tangan mereka mempersilahkan aku memeluk mereka.
yess...!! akhirnya aku bisa bertemu dengan mereka, bukan hanya bertemu juga bisa berkumpul dan berpelukan bersama mereka.
''we're sorry made you've best friend until the wound'' ujar nial mengawali
''what do you mean?'' aku tidak mengerti siapa yang ia maksud temanku
''the security guard hurt your friend because want to meet us and asking to meet you in here tonight'' hary menjelaskan. aku masih belum mengerti..
''apakah yang di maksud mereka itu adalah kamu?'' aku ingin tahu bertanya pada kadri. tapi dia tidak menjawab, meski begitu aku bisa menebak dan mencari tahu sendiri bahwa ternyata luka memar di kepala dan siku lengannya itu bukan karna jatuh dari motor melainkan untuk bertemu one direction dan memintanya untuk menemuiku
''aku tahu sekarang,, jadi kamu bohongin aku dri?'' nukannya aku menyalahkan kadri, hanya aku ingin bertanya dan dia menjawab dengan sebenar-benarnya
''maaf di,, bukan maksud aku bohongin kamu, aku hanya nggak mau buat kamu cemas'' jelasnya.
kemudian mama dan papaku hadir di malam itu.
''diana sayang... apakah kamu bahagia? maafkan papa nak..'' ujar papa
''iya sayang,, mama juga minta maaf sama kamu'' mama kemudian, mereka memang terlihat akrab tapi sejujurnya aku tidak menginginkan kehadiran mereka
''mau apa kalian kesini'' aku cemberut karna ku rasa mereka hanya akan membuat suasana bahagiaku bersama one direction jadi berantakan.
''diana,, kamu harus tahu, mama dan papa kamu yang membayar lebih dan merayu manager one direction untuk datang menemui kamu'' pengakuan kadri
''haaahhh...?'' aku kaget
''maafkan mama dan papa sayang,, kita tahu dan kita menyadari bahwa selama ini kita salah, kita janji kita tidak akan lagi bertengkar dan menyia-nyiakan waktu kebersamaan kita terbuang'' kata mama. aku masih acuh. sejujurnya aku jadi malu terhadap the boys one direction, kenapa harus hadir mama dan papa.
''diana anak papa,, pukul lah papa, caci dan maki lah papa sepuas hati kamu jika memang papa dan mama salah di mata kamu, tapi papa mohon sama kamu tolong jangan seperti ini, papa dan mama sangat menyayangi kamu sayang..'' papa membujukku. entah apa yang sudah terjadi diantara mereka sehingga mereka bisa rukun seperti keluarga yang sesungguhnya.
''diana.. jangan kaya gini dong,, malu kan sama one direction, lagian kan permasalahannya sudah selesai, mama dan papa kamu sudah benar2 menyesali atas perbuatan mereka di, ayo dong,, kita bersenang-senang malam ini bersama one direction, besok mereka kembali ke london loh..!!'' bujuk kadri lagi
''maafkan mama sayang...'' mama dari belakang memaksa memelukku padahal aku memberontak, tapi ia tidak menyerah dan makin erat memelukku, kemudian juga papa hingga akhirnya hatiku luluh dan tak bisa lagi marah terhadap mereka
''kalian tahu nggak..? aku benci banget sama kalian...'' aku teriak menangis di pelukan mama dan papa tidak bisa memberontak
''iya sayang mama tahu'' mama
''papa juga tahu sayang..''papa.
Hanya itu, namun hangat pelukan mereka memusnahkan egoku, tenang dan damai lagi ku rasakan, keharuan terjadi di tengah kita, tangis pun tertumpah
''come on everybody,, we got to singing together....'' nial meramaikan,, dan kita bersenang-senang bersama.
Bahagia.... serasa sempurna yg ku impikan selama ini terjadi di hidupku, mama dan papa yang ku sayangi, kadri sahabatku yang ku cintai seperti saudaraku sendiri, di tambah lagi dengan kehadiran the boys one direction yang sangat aku kagumi,, hatiku bicara
''terima kasih tuhan''......

                                       SELESAI
Ikut ngeramein kebahagiaan diana kita juga ikut nyanyi yuk di www.onedirection.com


by; aya